Waktu Baca: 2 menit

Eko Kuntadhi pada akhirnya keseleo dengan lidahnya sendiri. Dia yang berbeda pendapat dengan Ning Imaz mengeluarkan kata-kata ‘tolol’ dalam pernyataannya. Sebenarnya ini bukan sekali pria yang terkenal karena Cokro TV ini terjerat lidahnya sendiri. Sebelumnya Eko Kuntadhi pernah menuai masalah dari ucapannya yang menyebut bahwa film kartun asli Indonesia adalah film Taliban.

Tapi, pada kenyataannya Eko Kuntadhi adalah salah satu dari banyak orang yang sering berkomentar sembarangan di media sosial. Kalau saya lihat sendiri, di media sosial Facebook, acap kali orang-orang menggunakan istilah yang sembarangan dalam mengomentari isu-isu tertentu. Dan kebetulan kebanyakan orang seperti Eko ini adalah kaum bapak-bapak Facebook, saya yakin sendiri kalian tahu seberapa brutalnya bapak-bapak di sana.

Pertanyaannya sekarang, kenapa ya Eko Kuntadhi dan bapak-bapak selalu sembarangan berucap ketika mengomentari isu politik?

Masih Sering Mengkota-kotakan

Salah satu hal yang biasanya muncul di kolom komentar politik di Facebook yang biasanya muncul dari bapak-bapak adalah mereka sering mengkotak-kotakan. Biasanya, label yang mereka berikan kepada para politikus bak Tuhan vs Iblis.

Kebiasaan mengkotak-kotakan ini biasanya datang dari kepercayaan pribadi akan seseorang. Bahkan bisa jadi orang itu dikultuskan oleh seorang individu. Dan seperti yang pernah saya ucapkan ke dosen saya, setiap orang akan memiliki sifat yang sama dengan orang lain, akhirnya kebiasaan mereka tervalidasi oleh sesamanya. Boom! Bapack-bapack akhirnya sering bertengkar di media sosial soal politik.

Baru Saja Merasakan Platform yang Menawarkan Kebebasan Berpendapat

Hal yang saya lihat, termasuk dari bapak saya dahulu, bapak-bapak Indonesia ini pada akhirnya mendapatkan platform yang memberikan kebebasan untuk berpendapat dan mengeluarkan pandangannya.

Sebenarnya kondisi ini seperti sudah wajar terjadi, orang-orang sering menggunakan sosial media secara ugal-ugalan karena merasakan betapa enaknya ngomong di sana. Terlepas dari menggunakan akun bodong atau nggak, kita akan cenderung semena-mena karena kebebasan ini.

Begitu pula dengan bapack-bapack Indonesia yang pada akhirnya merasakan kebebasan yang sebebas-bebasnya di media sosial. Mereka nggak perlu merasakan konfrontasi secara langsung karena media sosial membatasi ini namun tidak membatasi cara mereka bertutur. Ya wajar saja sering terjadi bapak-bapak yang suka sembarangan berkomentar.

Pada Zamannya, Mereka Tidak Diajari Berkomunikasi

Sama seperti kita, bapak-bapak pada zamannya tidak mendapatkan pelajaran berkomunikasi yang baik. Mereka nggak tahu standar-standar cara berkomunikasi secara baik bahkan secara asertif. Pada masa kecil mereka, mereka biasanya diminta untuk manut orang tua mereka saja. Mereka nggak punya ruang untuk belajar berkomunikasi.

Pada akhirnya ketika mendapatkan fasilitas untuk bersosial secara bebas, mereka nggak tahu bener caranya ngomong. Mereka meluapkan apapun yang ada di perasaan dan pemikiran mereka tanpa batasan. Pada akhirnya, komentar mereka menjadi sembarangan ketika berhadapan dengan isu-isu politik.

Pelajaran Buat Kita

Kasus Eko Kuntadhi dan kebiasaan bapak-bapak Indonesia berkomentar di media sosial bisa jadi pelajaran buat kita sendiri dan dalam mendidik anak. Kedewasaan berkomunikasi adalah kunci dari penggunaan media sosial. Jangan sampai kita gagal mendidik anak atau mendidik diri sendiri perihal cara berkomunikasi.

Komunikasi berarti berbicara secara asertif. Komunikasi berarti menjadi jembatan antara kedua belah pihak. Pun komunikasi juga bisa membuat kita saling memahami satu sama lain tanpa mengkotak-kotakkan.

Ya, begitulah yang ada di pikiran saya.

Sumber gambar: @ekokuntadhi

Baca juga:

Pertemuan Puan-Prabowo, Ulangan 2009?

Mongol Stres, Politik dan Komedi

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini