Waktu Baca: 2 menit

Es Teh pakai UU ITE buat mensomasi pengguna Twitter dengan username @IGD_DharmaYoga beberapa jam lalu. Persoalannya sih sebenarnya harusnya menjadi hal yang cukup sepele buat franchise minuman ini tangani. Akun Twitter @IGD_DharmaYoga ini mengatakan bahwa salah satu menu Es Teh rasanya nggak enak. Intinya begitu.

Meskipun si pemilik akun menggunakan kata-kata yang berbau kebun binatang, kira-kira keputusan Es Teh mensomasi pakai UU ITE tepatkah? Atau sebenarnya ada jalan yang lebih baik?

Bisa Merusak Citra Mereka

Sebenarnya, bagaimanapun prinsip pelanggan adalah raja harus dijunjung tinggi meskipun kritikan yang didapatkan perusahaan nggak sopan. Seperti yang terjadi pada Es Teh.

Keputusan Es Teh dalam mensomasi pengguna akun Twitter tersebut pakai UU ITE bisa jadi malah merusak citra mereka. Es Teh malah bisa mendapatkan cibiran dari mana-mana karena ‘ketidakdewasaan’ mereka. Ini pun bisa termasuk sama perusahaan atau produkmu. Kalau saja ada yang mencibir lebih mending ajak ngobrol dengan santai, karena bagaimanapun posisi mereka sebagai konsumen seakan lebih tinggi daripada bisnis yang kita jalankan.

Terlebih, blundernya Es Teh, mereka nggak menjelaskan secara resmi berapa takaran gula yang mereka pakai. Padahal, salah satu kritik dari si pemilik akun adalah jumlah gulanya. Alih-alih menjelaskan, Es Teh yang malah mensomasi bisa jadi alasan lebih banyak pihak lagi untuk mencederai franchise yang satu ini dengan pembahasan bahaya minuman tinggi gula. Ending-ending-nya malah citra mereka rusak.

Baca juga: Peluang Bisnis di Bidang Ternak Untuk Investasi Masa Depan

Bisa Digunakan Untuk Marketing

Make bad news to be a good news, konsep marketing yang satu ini pernah saya pelajari dari seseorang. Bad news yang muncul ke permukaan soal bisnis kita bisa kita rubah jadi good news lewat marketing.

Salah satunya adalah 00:44-nya Pandji Pragiwaksono. Cibiran yang datang dari netizen karena twit-nya di jam 00:44 bisa dia sulap jadi marketing yang brilian. Nama 00:44 justru Pandji angkat jadi salah satu segmen di YouTube-nya. Hasilnya? Boom! Malah jadi salah satu segmen yang cukup sukses. Dia merubah twit di jam 00:44 yang dapat cibiran netizen jadi cara dia memperlihatkan betapa dia mencintai pekerjaannya dan memperlihatkan pula betapa pentingnya untuk bekerja di dunia yang kita cintai.

Es Teh pun lebih tepat memilih hal ini. Kalau saja yang dicibir adalah jumlah gula, bisa saja Es Teh menciptakan produk khusus sugar less atau tanpa gula. Setelah itu bisa juga mereka bikin iklan “Khawatir soal gula kaya @IGD_DharmaYoga? Yuk Cobain Menu Baru Es Teh yang tanpa gula tapi rasa tetap nikmat!” atau sejenisnya.

Dalam marketing produk, bad news yang muncul bisa jadi good news jika diolah dengan baik. Jika kampanyenya pas, nama Es Teh bisa semakin meledak.

Baca juga: Pengen Coba Jualin Barang? Coba Trik Marketing Ini!

Penutup

Menurut pandangan saya apa yang Es Teh lakukan sama sekali tidak tepat. Tapi yang jelas lewat kasus Es Teh ini kita bisa belajar mengenai bagaimana merespon kritik-kritik terhadap produk kita. Bagaimana menurutmu?

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini