Waktu Baca: 3 menit

Kamu untuk aku, aku untuk kamu…Hadiah untuk Atun sebelum berpisah

Aku mengenal Atun sudah hampir 10 tahun, lamanya kenal memang bukan ukuran spesialnya sebuah hubungan. Kata Atun orang yang awet jadi temannya adalah orang yang suka mendapat kritik dari nya. Entah apa maksudnya…tapi aku memang paling suka cerita ke Atun. Banyak hal yang kubahas: mulai masalah gebetan, pacar,pekerjaan hingga masalah keluarga yang selama ini kusimpan. Tapi 2 tahun belakangan ini hubunganku dengan Atun mulai renggang, gebetannya cemburuan…

Aku pernah lost contact dengan Atun, waktu itu dia dan pacar nya sedang mesra mesranya. Melihat kemesraan mereka membuatku seperti kemasukan air shampoo ke mata, pedihh!!!

Baca juga : Ngerinya Akar Keluarga, Bikin Kita Kembali ke Tuhan…

Atun menghitung bahwa aku “menghilang” selama 8 bulan , dia merasa geli dengan kebodohan yang ku lakukan. Dengan wajah serius mengatakan tidak akan mengetuk pintu untuk ke dua kalinya. Saat itu Atun mengatakan, kalau kita saling kontak hanya untuk memastikan masing masing dari kita baik baik saja.

Perjalanan

Setelah kejadian itu beberapa kali aku jalan jalan dengan Atun. Mulanya cuma berdua saja, tapi pada pertemuan setelahnya Atun mulai mengajak teman perempuannya bila bertemu denganku.

Suatu hari di bulan Juni, aku dan Atun janjian untuk sekedar nyore di sebuah taman kota, tak kusangka Atun membawa temannya lagi. Lalu kami belanja snack dan minuman untuk pelengkap ngobrol.

Saat teman Atun pergi mencari jajanan (lagi) , dan hanya tinggal kita berdua, ku bilang pada Atun kalau selama ini aku menyukai Atun seperti bak laki laki dan perempuan.

Atun merasa selama ini aku sudah tahu perasaannya padaku dan merasa tidak perlu menjawab secara gamblang, namun sebelum  menjawab dia memintaku untuk tidak lagi menghilang atau berubah sikap. Aku menjawab, “ Ya mana bisa Tun”.

Baca juga : Dab Supri Sang Saksi Perjalanan Mahasiswa dan Mahasiswi Sanata Dharma

Atun tidak merasakan hal yang sama denganku. Dia merasa aku ini seperti kakak atau adiknya. Ya ibarat aku sakit,dia pun merasakan sedih. Huh…

Setelah itu aku pamit pulang, temen Atun yang baru selesai beli gorengan bingung “ hah!? Kenapa tu? Kenapa? “ kulihat akun tidak menjawab temannya, aku berjalan menjauh , kulihat wajah Atun aku merasa mungkinkah itu terakhir kali aku bertemu Atun ?

Sampai di rumah, kulihat ada pesan dari Atun “thanks for today”  ku iyain aja walau bingung thanks buat apa sih tun???

Hilang

Kedua kalinya aku mencoba lost contact dengan Atun. Kali ini atun menepati janjinya,dia tidak lagi mengontakku. Aku udah pasrah menerima konsekuensi dari tindakanku.

Awal bulan September kulihat postingan Atun dimana gebetan atun memberikan hadiah ulangtahun selendang hijau dan juga sahabat Atun menghadiahi paket kosmetik. (ultah Atun 1 agustus , Atun latepost ).  Entah darimana ada rasa iri dan rasa kepengen memberikan hadiah sekaligus teringat janji memberi hadiah ulang tahun. Akhirnya aku mengirim pesan ke Atun. Kubilang kulihat postinganmu dan aku ingin menyiapkan hadiah untuknya juga.

Baca juga : Generasi Z dan Millenial: Generasi Si Paling Mental Health Yang Sering Salah Kaprah

Kutawarkan untuk memaketkan hadiahku saja ,tapi Atun menjawab lebih enak kalau bertemu langsung saja. Saat itu Atun berada di luar kota dan kita sepakat untuk bertemu akhir bulan September.

Atun menyukai hadiah yang sifatnya awet. Aku memikirkan bonsai kecil untuk meja belajar Atun (bonsai tanaman hias yang walau usianya sudah tua namun ukurannya masih segitu gitu aja…). Katanya tanaman mampu mengurangi stress dan khawatir. Saat kita bertemu aku merasa Atun tidak pernah lagi menceritakan masalahnya padaku. Padahal, aku sadar Atun tidak pernah kekurangan masalah.

Baca juga : Investasi Tanah Apakah Oke Buat Kita Lakuin?

Lalu sore hari aku bergegas ke bang bonsai yang telah ku kenal sebelumnya, rumahnya berada di pegunungan Menoreh, cukup jauh dari rumahku. Pemandangan indah khas pegunungan Menoreh dan aspal yang halus membuat pikiranku rileks.

Dalam perjalanan aku memikirkan Atun, namun aku juga masih sempat memikirkan gengsiku dan  hatiku “ buat apa ? ” mungkin memang tidak perlu lagi.

Dalam ketenangan itu , Ya Tuhanku jangan Engkau biarkan aku hidup seorang diri.

Gambar oleh : Todd Trapani

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini