Waktu Baca: 3 menit

Masyarakat Indonesia selalu memperingati tanggal 9 Septermber sebagai hari olahraga nasional. Sebuah hari di mana cocok untuk kita melakukan kegiatan olahraga (meskipun lebih baik lagi kita lakuin setiap hari).

Tapi usut punya usut nih, Hari Olahraga Nasional itu nggak lepas dari adanya Pekan Olahraga Nasional (PON). Kenapa bisa begitu ya? Gimana sih sejarah Hari Olahraga Nasional ini sebenarnya?

Latar Belakang Berlangsungnya PON

Saat itu, Indonesia akan mengikuti ajang prestisius bernama Olimpiade 1948. Sesuai namanya, olimpiade ini terselenggara pada tahun 1948 yang lalu. Saat itu Indonesia ingin mendapatkan pengakuan dari khalayak dunia setelah baru saja merdeka 3 tahun lalu.

pembukaan olimpiade 1948
Pembukaan Olimpiade 1948 (Wikipedia)

Namun sayang, keikutsertaan Indonesia di Olimpiade 1948 nyatanya mendapatkan penolakan. Alasan yang menjadi landasan penolakan ini adalah indonesia belum menjadi anggota Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB). Selain itu alasan Persatuan Olahraga Repoblik Indonesia (PORI) juga belum terdaftar di Komisi Olimpik Internasional (IOC).

Sialnya lagi, Olimpiade yang saat itu diselenggarakan di Inggris juga membuat atlet Indonesia gagal tampil di Olimpiade 1948. Saat itu Inggris hanya mengakui paspor Belanda sebagai dokumen resmi.

Tentu saja penolakan ini membuat atlet Indonesia merasakan kekecewaan yang mendalam. PORI (yang sekarang lebih dikenal sebagai Komite Olahraga Nasional Indonesia atau KONI) mengadakan konferensi darurat di Solo. Konferensi ini terjadi pada tanggal 2-3 Mei 1948. Hasil dari konferensi ini adalah menyelenggarakan Pekan Olahraga Nasional (PON) untuk menyikapi kegagalan atlet Indonesia mengikuti Olimpiade 1948.

Konferensi ini pula pada akhirnya memilih kota Solo untuk menjadi tuan rumah dalam penyelenggaran PON yang pertama. Alasan di balik pemilihan kotane wong Solo ini sebagai tuan rumah adalah karena kota ini memiliki sarana dan prasarana yang memadai. Selain itu, tujuan PORI mengadakan PON juga untuk membangkitkan kembali kegiatan ISI (bukan Insitiut Seni Indonesia, melainkan Ikalatan Sport Indonesia). Kegiatan ISI (yang bukan kampus) ini adalah ISI Sportweek atau pekan olahraga ISI.

Maka dari itu lahirlah PON yang pertama. PON ini diselenggarakan pada tanggal 9 – 12 September 1948. Sebanyak 600 atlet dari 13 Karesidenan (Banyumas, Bojonegoro, Jakarta, Yogyakarta, Kediri, Madiun, Magelang, Malang, Pati, Priangan, Semarang, Surabaya, Solo/Surakarta) mengikuti 9 cabor yang dipertandingkan (sepakbola, atletik, Renang, Bulutangkis, Basket, Bola Keranjang, Tenis, panahan, Pencak Silat) untuk memperebutkan 108 medali emas (meskipun para pemenang hanya mendapat secarik kertas berbentuk piagam sebagai pengganti piala maupun medali yang diraih).

Penyelenggaraan yang Sederhana

Jangan bayangkan PON waktu itu berlangsung secara meriah seperti sekarang. Justru penyelenggaran waktu itu terkesan sederhana. Adanya blokade dari pihak Belanda (berdasar perjanjian Renville) membuat perwakilan daerah dari luar Jawa kesulitan untuk sekedar berpartispasi sekaligus memeriahkan ajang tersebut. Meskipun terkesan sederhana, namun POM pertama ini tidak menyurutkan semangat para peserta maupun penonton untuk memeriahkan ajang ini. Padahal saat itu mereka berada di tengah ancaman Belanda yang siap menyerang kapan saja. Ajang tersebut juga menjadi ajang unjuk gigi Indonesia terhadap Belanda dan dunia bahwa Indonesia merupakan negara yang berdaulat.

pembukaan pon pertama
Pembukaan PON Pertama (National Geographic)

Soekarno bersama Moh. Hatta membuka gelaran PON pertama kali saat itu. Jajaran menteri pun ikut serta menghadiri pembukaan di Stadion Sriwedari. Saat itu Turut hadir pula beberapa nama besar seperti Jendral Soederman, Sri Sultan Hamengkubuwono IX sampai utusan PBB, Komisi Tiga Negara (KTN). Selain itu ada nama-nama seperti Merle Cochran dari Amerika Serikat, Thomas Crithcley dari Australia, dan Paul Van Zeeland dari Belgia juga turut hadir.

Penetapan Hari Olahraga Nasional

Pada akhirnya, untuk memperingati keberhasilan Indonesia menyelenggarakan PON, PORI, yang saat itu sudah berubah menjadi KONI, melalui sidang paripurna KONI XIII mengusulkan tanggal 10 September sebagai Hari Olahraga Nasional. Saat itu Sri Sultan mengatakan bahwa usulan Hari Olahraga Nasional ini untuk memicu semangat olahraga masyarakat agar bisa meningkatkan prestasi mereka.

Usulan tersebut ternyata mendapatkan sambutan positif dari The Smiling General, Soehato yang masih menjabat sebagai presiden Indonesia. Namun, apa yang ada di dalam pemikiran Soeharto sedikit berbeda dengan mantan wakilnya tersebut. Soeharto nyatanya lebih memilih tanggal 9 September sebagai Hari Olahraga Nasional. Mantan Jenderal TNI ini mengatakan bahwa tanggal 9 Septermber lebih tepat karena bertepatan dengan pembukaan PON pertama Indonesia.

Kini setelah terbitnya Keputusan Presiden no. 67 tahun 1985, secara resmi kita memperingati tanggal 9 September sebagai Hari Olahraga Nasional.

Ilustrasi gambar oleh JESHOOTS.com

Baca juga:

Follow Influencer Olahraga Adalah Cara Saya Untuk Konsisten Hidup Sehat

UNO Menjadi Olahraga Olimpiade, Gimana Nasib Atletnya?

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini