Waktu Baca: 2 menit

Selama masa pandemi mobilitas saya menjadi sangat tinggi terutama dalam masalah pekerjaan. Saya dapat bekerja dari mana saja, kapan saja dengan waktu yang lebih fleksibel terlebih dengan adanya sistem Work From Home. Teman-teman saya pun juga memanfaatkan situasi ini untuk menjadi lebih produktif dengan melakukan berbagai kegiatan dalam waktu yang bersamaan.

Setelah beberapa bulan terisolasi karena pandemi, akhirnya saya bertemu dengan teman-teman saya. Kami sharing, ada yang cerita soal kerjaan, apa aja yang dia alami. Pokoknya mereka bercerita tentang semua yang ditimbun selama tidak bertemu.

Namun lambat laun suasana menjadi mendadak melow, karena mereka merasa insecure dengan pencapaian rekan kerja mereka, salah satunya aku. “Aku ki jane bosen je kerja ngene-ngene wae, pengen koyo konco-koncoku do sukses”. Layaknya orang lain, aku juga memimpikan untuk menjadi orang yang lebih hebat lagi. Di sisi lain aku juga dilema. Aku harus kerja lebih keras lagi atau menjadi biasa aja karena secara mental aku lebih damai. Namun aku selalu terdorong untuk bekerja dan melakukan hal yang lebih lagi.

Menjadi Produktif dan Budaya Hustle Culture

Sebagian besar dari anak muda di zaman ini berpikir bahwa dengan mengganti waktu istirahat dengan kegiatan lain, serta memiliki jadwal yang ‘padat’ akan membuat produktifitas mereka bertambah serta akan meningkatkan kesempatan mereka untuk mencapai pekerjaan impian. Bahkan hobi yang menjadi aktivitas kesukaan dan seharusnya tidak memberi tekanan dinilai dengan apakah hal itu bisa memberikan ‘pelajaran’ atau menghasilkan uang.

Fenomena seperti ini terkenal sebagai hustle culture. Hustle culture dapat kita artikan sebagai budaya gila kerja atau workaholic. Orang yang terjebak dalam hustle culture merasa bahwa dia harus bekerja keras demi mencapai kesuksesan.

Self Improvement dan Ingin Menjadi Sukses

Sejak kecil saya Papa selalu bilang ke saya, “ayo koe kudu sinau, ben awakmu ki dadi sek paling pinter neng kelas”, “ayo dirimu kudu aktif, ben dirimu iso dipilih” dan buanyak lagi. Sejak saat itu saya selalu mendorong diriku untuk menajdi orang yang paling baik diantara yang lain. Tapi, ternyata hal itu mempengaruhi mental ku sendiri. Aku jadi sulit menikmati hidup bahkan sering membandingkan diri dengan orang lain.

Memang dorongan untuk menjadi lebih di antara orang lain itu adalah suatu goal bahkan menjadi kebanggaan. Namun sejak aku merasa gak nyaman dengan apa yang aku lakukan, aku jadi berfikir, “sukses menurut ku tuh seperti apa sih?”

Kerja Biasa Aja Itu Bukan Malas

Ketika dorongan untuk terus menjadi biasa dikritik bukan berarti semacam jalan untuk melegitimasi sikap malas dan tidak ingin berkembang. Apalagi melarang orang untuk bercita-cita besar. Setiap orang memiliki tekanan yang terpengaruh oleh status ekonomi dan sosial masing-masing. Menjadi biasa saja itu tentang merasa cukup dengan diri sendiri dan bukan hidup dalam situasi yang terus menerus menuntut untuk menjadi optimal dan berkembang.

Sejak saya mendengar kata-kata “it’s okay not to be okay” bagi saya menjadi biasa saja itu adalah menerima diri sendiri apa adanya. Saya akan tetap berusaha produktif dan mengembangkan potensi diri tanpa memberikan ‘nilai mata uang’ untuk segala hal yang saya lakukan.

Lagi pula, sukses itu kita kok yang nentuin bukan orang lain. Ketika dengan hasil yang seperti itu saja kita sudah puas dan bersyukur mengapa kita harus insecure dengan pencapaian orang lain?

Ilustrasi foto oleh mentatdgt

Baca juga:

Hustle Culture, Kerja Keras Sampai Tipes

Yuk Belajar Mengelola Stres Ala Collective Mind!

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini