Waktu Baca: 3 menit

Hari Minggu beberapa pekan yang lalu, seperti biasa, saya beribadah. Hari itu, firman yang diangkat adalah tentang kisah Saul dan Daud. Diceritakan bahwa Saul benci sama Daud. Mungkin bagi kalian yang beragama beda pun tahu cerita ini. Tapi karena saya Kristiani, saya kutip ayatnya dari Alkitab aja ya.

Dari Alkitab, saya mau kutip ayat dari 1 Samuel 18:6-9. Gini isinya.

6 Tetapi pada waktu mereka pulang, ketika Daud kembali sesudah mengalahkan orang Filistin itu, keluarlah orang-orang perempuan dari segala kota Israel menyongsong raja Saul sambil menyanyi dan menari-nari dengan memukul rebana, dengan bersukaria dan dengan membunyikan gerincing;

7 dan perempuan yang menari-nari itu menyanyi berbalas-balasan, katanya: “Saul mengalahkan beribu-ribu musuh, tetapi Daud berlaksa-laksa.”

8 Lalu bangkitlah amarah Saul dengan sangat; dan perkataan itu menyebalkan hatinya, sebab pikirnya: “Kepada Daud diperhitungkan mereka berlaksa-laksa, tetapi kepadaku diperhitungkannya beribu-ribu; akhir-akhirnya jabatan raja itu pun jatuh kepadanya.”

9 Sejak hari itu maka Saul selalu mendengki Daud.

Kita mau cosplay jadi anak sekolah dulu. Dari kutipan ayat di atas, nilai apa yang bisa kita ambil? Yang jawab, “Jangan iri,” saya kasih nilai 100! Nah, pesan ini juga yang dibahas saat khotbah waktu itu.

Seingat saya, kisah Saul iri sama Daud ini udah berkali-kali saya dengar di gereja. Bahkan seingat saya, di sekolah minggu juga saya pernah diceritakan tentang kisah ini (maaf kalau salah ingat). Topik yang diangkat selalu sama, yaitu tentang betapa bahayanya iri hati. Apakah salah? Oh, gak, sama sekali gak salah.

Tapi Ini Gak Cuma Soal Iri Hati

Memang kenyataannya, iri hati sering banget mengubah orang jadi jahat. Saya pernah dijulidin karena saya dipuji-puji terus sama guru tari. Sebenarnya gak dipuji juga sih, tapi dijadiin contoh pas kelas tari biar temen-temen saya lebih bisa ngikutin. Itu masih masalah kecil yang ditimbulkan dari rasa iri ya. Yang lebih parah, ada orang-orang yang dikucilkan dan di-bully cuma gara-gara banyak yang naksir. Eits, ini nyata lho.

Baca juga : Ngerinya Akar Keluarga, Bikin Kita Kembali ke Tuhan…

Apa akibatnya? Kalau perkara saya dijulidin, untungnya banyak orang yang udah belain saya bahkan sebelum saya tahu kalau saya dijulidin. Makasih banget buat temen-temen saya :’). Tapi coba bayangin gimana jadi orang-orang yang sampai kena bullying. Gara-gara iri hati, ada orang yang jadi trauma, dan trauma itu bisa kebawa sampai dewasa bahkan seumur hidup. Bahaya banget, kan?

Jadi, sudah tepat ya kalau topik tentang iri hati begitu ditekankan waktu membahas ayat yang dikutip di atas? Bahaya dari iri hati memang harus banget dibahas terus, walaupun menurut saya sih kurang tepat kalau kita disuruh gak boleh iri. Soalnya saya pikir, iri itu manusiawi. Kita kan diciptakan sebagai manusia, jadi wajar kalau manusiawi. Apalagi iri itu perasaan, sedangkan perasaan sering kali datangnya gak bisa dikendalikan. Kita maunya gak iri, kita udah berusaha buat gak iri, tapi ternyata di hati yang terdalam tetap muncul rasa iri. Mau gimana, hayo?

Penyebab Iri Hati

Yang bikin iri hati jadi sesuatu yang gak baik itu karena sering kali orang mencurahkannya ke tindakan yang jahat, kan? Padahal, rasa iri itu gak selalu buruk kok. Kadang, rasa iri justru jadi semangat buat improve dan meraih tujuan. Itu yang semestinya di-sounding. Lagipula, kalau dipikir-pikir, berusaha menjatuhkan orang itu lebih banyak ruginya daripada kalau kita berusaha buat improve. Ini menurut saya ya.

Baca juga : Habis Suharso Monoarfa Singgung Amplop Kiai, Terbitlah Komentar Kocak UU Ruzhanul Ulum

Balik ke waktu saya mendengar khotbah tentang Kisah Saul dan Daud. Saat itu, saya heran, kenapa Saul terus ya yang disalahin? Maksud saya begini, apa yang Saul lakukan untuk mencurahkan rasa irinya itu memang salah. Saul sampai mau bunuh Daud lho, udah tindakan kriminal itu. Saya juga setuju kalau Saul disalahkan gara-gara dia membiarkan dirinya dikuasai rasa iri yang bikin dia jadi mikir macem-macem.

Tapi menurut saya, semestinya gak cuma Saul yang disalahkan. Masih ada tokoh yang perlu dibahas, yang jadi dalang dari iri hati Saul.

Manusia Julid

Waktu Daud pulang dari perang, para perempuan Israel menari-nari dan bernyanyi, “Saul mengalahkan beribu-ribu musuh, tetapi Daud berlaksa-laksa.” Pikir saya, kok usil banget ya mulutnya? Coba kalau mereka gak banding-bandingin gitu, kayaknya Saul gak bakal iri sampai mau bunuh Daud deh waktu itu.

Menurut saya, nilai yang satu ini juga penting untuk dibahas. Di ilmu parenting aja, pembaca berkali-kali diingatkan untuk gak banding-bandingin anak. Kenapa? Karena efek dari banding-bandingin anak memang besar banget. Salah-salah, bukannya bikin anak termotivasi, justru bisa bikin anak merasa gak dicintai orang tuanya dan akhirnya punya tujuan yang kurang tepat dalam hidupnya.

Baca juga : Film Miracle In Cell No.7 Versi Indonesia Jadi Remake Terbaik

Gak cuma buat orang tua ke anak, sikap gak membanding-bandingkan mestinya diterapkan semua orang di lingkup sosialnya. Ayok tunjuk ternit, siapa yang pernah dibanding-bandingin? Gimana rasanya dibanding-bandingin? Sedih, terluka, marah, insecure, atau campur aduk? Terus, apa sih imbas dari perasaan-perasaan itu? Ini kalau diurutin akibatnya, gak selesai-selesai.

Kesimpulan!

Intinya, nilai yang gak di-notice dari kisah Saul dan Daud ini sebenarnya juga penting dibahas, melihat masih banyak banget orang yang suka banding-bandingin orang lain. Padahal Tuhan udah kasih contoh efek negatifnya dari dulu, tapi sayangnya kurang terlihat.

Pokoknya, punya mulut tuh jangan usil deh. Efeknya gak cuma berhenti bikin orang sakit hati, paling parahnya bisa bikin orang kayak Saul: iri dengki, terus bunuh orang. Nah lho, serem gak tuh? Ingat lagunya Farel Prayoga aja, “Ojo dibandingke”. Hayo, siapa yang langsung nyanyi?

Sebagai penutup, tolong dicatat, saya membahas ini bukan berarti saya menyalahkan pendeta saya atau khotbahnya ya. Saya hanya merasa ada yang belum di-notice.

Gambar oleh : Olga Lioncat

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini