Waktu Baca: 3 menit

Saya memiliki teman yang sering bersedih. Ia punya pacar yang sering melakukan kekerasan dalam pacaran. Ia juga sering dimaki maki dengan kata kata yang tidak baik. Saya berusaha membelanya, bahkan sampai hendak berkelahi dengan pacarnya itu. Tapi nyatanya teman saya tidak mau melepaskan si pacar yang keterlaluan itu. Lama kelamaan teman lain mengingatkan agar saya tidak terbebani pikiran dengan teman yang sering bersedih itu. Mereka menyebut teman saya itu drama queen, manusia drama dan sejenisnya. Saya dengan berat hati lalu mencoba melepaskan dia dari hidup saya. Sayapun menjauh dari teman saya dalam keadaan menyesal karena saya pikir sebenarnya saya bisa menolong dia.

Beberapa waktu kemudian teman yang sering bersedih itu putus dari pacarnya yang abusif. Tanpa bantuan saya lhoh! Saya pikir dia akan memulai hidup dengan lebih baik. Eh nggak, kali ini dia memacari seorang pria yang posesif dan menjadikan dia sebagai pacar settingan. Kebetulan pacar barunya itu seorang vokalis band yang (gagal) naik daun. Jadi si pacar baru teman saya yang sering bersedih itu butuh teman saya itu untuk menjadi alat untuk mengangkat namanya di media dan tabloid gosip.

Mirislah saya melihatnya. Drama kali hidupnya. Tapi memang kesannya hidupnya mencari drama, tapi kok bisa ya?

Diagnosis Salah Satu Saudara Saya…

Saya tertarik dengan manusia drama atau drama queen itu karena salah satu saudara saya didiagnosa memiliki kecenderungan untuk menciptakan drama dalam hidupnya. Menurut vonis psikolog, saudara saya ini suka membayang bayangkan kejadian yang sebenarnya tidak ada nilai emosionalnya. Tapi, di pikiran dirinya, semua berjalan seperti drama yang terus menerus berputar dalam kepalanya.

Istilahnya, saudara saya ini membutuhkan drama atau masalah dalam hidupnya.

Kata Psikolog

manusia drama drama queen

Menurut psikolog dari Universitas Proklamasi 1945 Yogyakarta, Femmy Lekahena, orang yang membutuhkan drama itu memang ada dan eksis di antara kita.

“Setiap orang punya kebutuhan, ada orang yang punya kebutuhan berprestasi, ada yang punya kebutuhan untuk mendominasi dan ada yang punya kebutuhan untuk menjalin relasi dengan orang lain. Dan untuk orang yang..sorry..punya drama dalam hidupnya memang memiliki kebutuhan untuk melakukan itu,” jelas wanita asal Ambon ini.

“Dalam psikologi, ada yang namanya needs for sufferance, kebutuhan untuk dibantu..Orang seperti ini lebih mudah untuk mengharapkan bantuan orang lain,” tambahnya lagi.

“Sebenarnya kalau kebutuhan untuk mendapatkan bantuan orang lain itu masih dalam porsi normal, itu manusiawi banget ya. Nah, sayangnya segala sesuatu kalau berlebihan itu tidak baik.”

Dengan demikian, manusia drama, drama queen dan apapun itu sebutan kamu, adalah orang yang kebutuhannya untuk dibantu orang lain berlebihan. Kalau tidak mendapat bantuan yang orang lain harapkan ia akan bersikap dramatis, emosional berlebihan dan bahkan membuat masalah.

Ketakutan Saya

Bagaimana kalau orang orang seperti ini sampai menganggap hidupnya terlalu drama dan berusaha untuk bunuh diri? Ini juga jadi pekerjaan rumah untuk kita. Tapi tampaknya kalau hanya demi mencari drama, omongan mau bunuh diri dan sebagainya itu Cuma berakhir di mulut saja. Akan tetapi memang sulit membedakan mana yang ancaman atau pepesan kosong serta niat serius untuk mengakhiri hidup.

Yang saya lebih khawatirkan, orang yang kita sebut manusia drama ini punya bibit bibit menjadi psikopat. Mungkin hal ini akan kita bahas lebih dalam secara keilmuan bersama dengan Bu Femmy dan atau bersama psikolog lainnya juga. Namun bagi saya peluang itu ada.

Kalau kita menonton film Jokernya Joaquin Phoenix, kita belajar bahwa ‘orang jahat adalah orang baik yang tersakiti’. Bagaimana kalau manusia drama/ drama queen ini lama lama muak pada dunia dan berubah menjadi orang sejahat jahatnya. Pernah gak terpikir di benak kita? Dan kalau benar, apa yang harus kita lakukan?

Jaga Jarak

Oke, ini pendapat saya pribadi. Saya selalu berusaha menghindari manusia drama atau drama queen ini. Kebetulan trait saya, dites secara psikologis, adalah orang yang berusaha jadi manusia ceng li alias manusia yang enak diajak diskusi dan tidak merepotkan orang lain di luar yang seharusnya. Saya juga orangnya less drama banget. Jadi kalau ketemu manusia drama, saya khawatir malah bisa saya tonjok (oalah!). Bercanda teman teman, saya orang yang anti pada kekerasan yang tidak perlu.

Pertanyaannya, bagaimana kalau manusia drama itu hadir sebagai bagian dari keluarga atau malah jadi pasangan kita sekalian?

Menurut bu Femmy sebenarnya kita bisa saja menerima manusia drama itu kalau sebenarnya kita adalah dasarnya manusia sabar dan suka ngemong. Jadi, kalau masih dalam batas wajar, ya tidak apa apa kita emong kalau toh ternyata kita juga suka ngemong. Cuma kalau sudah berlebihan ya bahaya.

Apa kemudian kita perlu geret manusia drama/ drama queen ini ke psikolog? Wah, ya bisa jadi ada keadaan yang memaksa kita begitu. Tapi, masalahnya gangguan seperti ini tidak seperti flu atau penyakit lain yang bisa kelihatan dan penderitanya sadar diri. Bisa jadi penderitanya malah denial dan marah marah, menuduh kita orang yang tidak baik.

Drama lagi deh. Kitanya yang jadi obyek.

Wadidaw.

Baca juga :

Berpendidikan Tapi Rasis? Bisa Jadi

Lahir Sudah Nyebelin, Obatnya Apa?

 

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini