Waktu Baca: 3 menit

Presenter televisi dan jurnalis Najwa Shihab kembali mendapat kecaman. Kali ini Najwa Shihab dihujat ‘Nyai’ Nikita Mirzani. Menurut Nikita, Najwa hanya berani mengkritik polisi ketika ada momen. Ia mempertanyakan ketulusan Najwa Shihab dalam mengkritik kepolisian. Menurut Nyai, mengapa Najwa Shihab harus menunggu kasus Ferdy Sambo dulu saat aktif mengkritik kepolisian. Bagi Nyai, Najwa seolah olah hanya memanfaatkan momen.

Pendapat Nyai Nikita tidak salah. Namun dia lupa. Sebelum ia menghujat Najwa Shihab, ia harus ingat Nana does what she does karena satu alasan : cari makan!  Iya, dia kan jurnalis, memang tugasnya mengumpulkan berita dan mensoroti suatu masalah pada waktunya. Namanya saja orang komunikasi, wajar kalau ia bisa menentukan kapan waktu tepat untuk bicara dan bagaimana dia seharusnya bersikap dengan tujuan agar komentarnya terdengar dan influencenya sebagai jurnalis senior terasa.

Bukan Cuma Nyai Yang Salah Kaprah

Jangan menyebut Nyai kurang cerdas, wong sebelumnya saja Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi, Luhut Binsar Pandjaitan, salah sikap pada Nana juga (menurut saya). Saat itu Najwa Shihab dihujat juga oleh mantan anggota Kopassus itu. Nana dianggap kurang paham isu tapi berani mengkritik. Konon hujatan dari Luhut Binsar Panjaitan itu cukup viral.

Baca juga : Nasib Demo Mahasiswa: Turun ke Jalan Dicibir Anarkis, Lewat Media Sosial Dianggap Cari Praktis

Dari beberapa kritik yang terarah ke Nana, semakin terbukti bahwa peristiwa Najwa Shihab dihujat menunjukkan bahwa orang Indonesia kurang paham bahwa Nana itu emang kerjaannya begitu.

Kritik pada Nana dari dua orang itu tuh belum menghitung warga Indonesia yang menyebut Nana antek Kadrun dan atau Cebong hanya karena kekritisannya.  Melihat kondisi ini, saya makin prihatin dengan kondisi Najwa Shihab yang mendapat hujatan karena cari makan.

Negara Demokrasi

Sebelum saya menyampaikan analisa saya yang lebih mendalam (idih!), saya ingin mengingatkan orang Indonesia bahwa negara kita adalah negara demokratis. Karena ini negara demokratis, maka semua orang bebas ngomong termasuk omongan yang kita gak suka sekalipun. Masalahnya di Indonesia banyak pantangan untuk berkomentar mulai dari larangan ngomongin agama, institusi, partai, tokoh dan lain lain..Yang masih boleh bebas kita omongin itu sebatas aib selebritis dan aib tetangga. Tidak heran kita jadi masyarakat julid.

Baca juga : Lelaku Nulis 70 Tahun Sindhunata: Sebuah Pameran Perayaan 70 Tahun Sindhunata

Nah, sebelum Najwa Shihab dihujat, tampaknya orang harus ingat dulu bahwa ini negara demokrasi dan ya sebebas itu untuk bicara.

Logical Fallacy

Setelah ngomongin salah kaprah, mari kita omongin betapa orang Indonesia itu suka memainkan logical fallacy atau kesesatan berpikir untuk melawan balik.

Salah satu korbannya ya Mbak Nana ini.

Contoh, ketika Nana mengkritik kepolisian, ia mendapat serangan balik dengan logical fallacy ‘Tu quoque’. Bukannya kritik Nana dianggap sebagai masukkan, ia dikritik balik karena baru mengkritik ketika ada kasus Ferdy Sambo. Padahal ya sebelumnya Nana rajin memberi masukan dan kritikan. Kebetulan, momennya ada, yaitu kasus Ferdy Sambo. Apa ya salah kalau Nana ini memberikan kritikan pada momennya begitu? Padahal ya kritik yang ia sampaikan gak salah salah amat. He..he..

Baca juga : Endgame Zulkifli Hasan : Dapat Menteri, Siap Siap 2024

Kritik pada Nana ini jelas nggak masuk akal. Lha apakah karena salah milih timing lalu kritik Nana menjadi tidak benar? Tentu tidak bukan, namun karena Nana mendapat kritikan balik hanya gara gara salah timing, inti kritikannya yang bermutu malah jadi ‘tenggelam’.

Sama ketika Nana entah mengkritik Jokowi, Ahok atau Anies, orang cenderung curiga pada motifnya. Inilah yang biasa orang sebut kesesatan berpikir Ad Hominem. Orang bukan fokus pada apa yang menjadi kritik dan pertanyaan Nana dan lebih suka membahas kepribadian dari Nana itu sendiri.

Akhirnya, inti kritik Nana yang sebenarnya baik malah gak terasa. Yang terasa malah sibuk menyalahkan Najwa Shihab.

Tidak Harus Selalu Benar

Orang yang meminta Nana memiliki empati dan mengajukan pertanyaan dengan harus ‘selalu benar’ itu adalah contoh orang yang tidak mengerti apa itu wartawan. Wartawan/jurnalis bukan akademisi, ketika dia menanyakan sesuatu ia mewakili kacamata rakyat biasa. Sama halnya saat melontarkan kritik juga, itu adalah kritik orang biasa.

Tidak perlu tersinggung apalagi menaruh posisi yang mengajukan pertanyaan sebagai terhujat satu. Cukup dijawab saja. Wong kalau benar ya tak perlu takut.

Yang meminta agar Nana selalu empatik, benar dan seterusnya itu coba yuk koreksi diri. Tidak perlulah sedikit sedikit sensitif.

Chillax saja.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini