Waktu Baca: 3 menit

Ketika terjadi demo menolak kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) Selasa minggu lalu (6 September 2022) justru malah ada pesta perayaan ulang tahun Puan Maharani. Para pendukung lidah rakyat pun jelas geram dengan perayaan ulang tahun Puan Maharani ini. “Lha wong masyarakat lagi demo, mbak-mbak DPR ada yang malah ngerayain ultah,” lewat kalimat ini saya mencoba untuk mewakili kaum-kaum yang geram sama kelakuan wakil rakyat kita.

Tapi bentar deh, saya tiba-tiba punya ide bagus ketika mencoba menalar bagaimana jalan pikiran Puan Maharani cs ini. Memprotes kelakuan mereka pasti sudah menjadi hal yang biasa kita lakukan. Bahkan mungkin, saya yakin DPR ini sudah katam dengan demo-demoan dan protes-protes kita.

Oke sudah siap? Kita kencangkan sabuk pengaman, lalu kita coba pahami kenapa mereka santai-santai saja di sana. Apakah memang mereka nggak peduli sama kita, masyarakat? Sejenak kita akan berfantasi menjadi DPR.

Saya, Sebagai DPR, Sudah Meragukan Mahasiswa

Ketika berfantasi menjadi DPR dan mencoba memahami kenapa malah tim saya justru lebih suka merayakan ulang tahun Puan adalah karena saya meragukan kapasitas mahasiswa.

Saat ini saya sedang duduk di salah satu kursi di dalam gedung DPR. Dengan mengantuk-antuk, pada awalnya, sebelum perayaan hari ulang tahun Puan Maharani, saya mengingat-ingat apa yang terjadi sebelumnya. Benar saja, yang pertama kali hinggap di kepala saya adalah ketika mahasiswa-mahasiswa diajak berdialog nyatanya kurang menguasai isu.

Saya yang mengalami tragedi ’98 pun juga agak tersentak dari kantuk saya karena memori akan perkataan Kaharuddin. Kalau kamu lupa, saya akan mengingatkanmu sebagai kolega DPR-mu yang baik hati. Saat itu Kaharuddin yang merupakan koordinator BEM SI yang tampil di Indonesia Lawyers Club (ILC) berkata bahwa pemerintahan orde baru lebih bebas daripada sekarang.

Sekarang, kita sama-sama meragukan mahasiswa. Saya, kamu dan kolega sesama mantan ’98 yang masuk ke DPR RI geleng-geleng kepala. Lebih baik lanjut tidur sampai pada akhirnya kita kaget karena mbak Puan ulang tahun.

Demo Nggak Sepenuhnya Demo

Selain lagi ngantuk-ngantuk, biasanya saya, dan kamu, sukanya main TikTok di gedung DPR. Di sana saya juga mengerenyitkan jidat karena kok malah banyak mbak-mbak atau mas-mas yang lebih mentingin fashion daripada berdemo.

Akun-akun justru sering memperlihatkan eksistensi mahasiswa dengan lagu jedag-jedug yang tetap tidak bisa menghancurkan rasa kantuk saya di gedung DPR. Saat itu juga saya nge-WA anak saya yang lagi kuliah di suatu kampus. Apakah dia ikut demo? Tentu saja tidak. Saya bertanya kepada anak saya soal kenapa teman-temannya pada ikut demo. Anak kesayangan saya ini, yang baru saja saya belikan Pajero, berkata bahwa banyak teman-temannya yang cuma sekedar ikut-ikutan demo saja yang penting keliatan eksis di lingkungan sosialnya.

Ya, sebenarnya ini cerita asli saya ketika terjadi demo tahun 2019 yang lalu. Saya bertanya kepada banyak teman saya yang ikut demo soal isu yang sedang disuarakan. Banyak dari mereka yang nggak paham dan ingin terlihat ikut demo saja. Duh mahasiswa, sebaiknya saya merayakan ultah Puan Maharani saja.

Saya Sudah Tahu Kenyataan BBM Bersubsidi

Terakhir yang sepertinya saya pikirkan ketika menjadi DPR dan memilih untuk ikut perayaan ultah Puan adalah karena saya tahu mau-nggak-mau bensin harus naik.

Saya pun sebenarnya bersedih, saya seperti apa yang masyarakat temui biasanya, pengguna mobil mewah yang sukanya pakai Pertalite. Meskipun sebenarnya uang tunjangan saya cukup buat beli Pertamax Turbo.

Tapi melihat mahasiswa demo sepertinya saya bingung. Harga minyak dunia sedang naik, meskipun katanya turun akhir-akhir ini. Toh turunnya juga masih di atas harga biasanya. Sebelum perang Ukraina – Russia harga per barel minyaknya $58-61. Setelah perang puncak harganya sampai $130. Sekarang pada kenyataannya memang turun, namun masih di kisaran $80 per barelnya. Masih di atas ‘harga biasanya’. Sedangkan Pertalite harganya saat masih parah-parahnya hanya naik ke angka Rp 7.650, banyak uang yang kita bakar. Naiknya pun baru akhir-akhir ini ke angka Rp 10.000. Tapi toh ya tetap saja, subsidi adalah jalan mudah mendulang suara.

Melihat kenyataan ini, ya saya sebagai DPR mending ikut ultah Puan. Siapa tahu jadi deket. Kalau dia kesampaian jadi presiden saya bisa dapat jabatan menteri. Hehehe…

Sumber gambar: @puanmaharaniri

Baca juga:

Pertemuan Puan-Prabowo, Ulangan 2009?

Inang-inang di Toba Doakan Puan Jadi Presiden Indonesia

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini