Waktu Baca: 3 menit

Nama Rafi Azzamy sudah jadi buah bibir sejak beberapa waktu yang lalu. Dia jadi perbincangan banyak orang karena keberaniannya mengkritik sistem pendidikan. Spesialnya saat itu, dia masih menjadi seorang siswa SMK. Umur di mana biasanya orang lebih suka bersenang-senang daripada berpikir soal sistem pendidikan.

Beberapa waktu berlalu, setelah sempat tenggelam dari perbincangan netizen, nama Rafi Azzamy lagi-lagi muncul ke permukaan. Kali ini banyak yang ngebully maba Universitas Muhammadiyah Malang ini karena dia yang marah-marah di media sosial hanya karena tidak mendapatkan kesempatan bertanya di sebuah acara. Parahnya lagi, sifatnya yang dianggap star syndrome makin bikin netizen menjadi-jadi.

Namun sebenarnya, dalam kasus ini buat apasih kita nge-bully Rafi Azzamy?

Sok Kritis Karena Baru Belajar

Raditya Dika atau Pandji Pragiwaksono, saya jujur saja lupa, pernah mengatakan bahwa akan ada kalanya seseorang mengalami “puber intelektual”. Kondisi ini adalah di mana seseorang akan merasa cerdas atau kritis setelah membaca beberapa buku saja. Meskipun yaa…, mungkin buku yang individu yang mengalami “puber intelektual” ini masih sangat sedikit. Bisa jadi kondisi inilah yang sedang Rafi Azzamy alami sampai marah-marah di sebuah acara UMM.

Tapi dari sisi psikologis, apa yang Rafi Azzamy alami, yaitu puber intelektual, adalah fase yang bisa jadi semua orang alami. Dalam dunia perkembangan anak, seseorang remaja akan berada dalam tahap merasa kritis, merasa harus diterima dan sebagainya. Fase ini biasanya terjadi pada remaja yang baru mengenal ilmu-ilmu yang (biasanya juga) berbau filsafat atau ekonomi. Das Kapital contohnya, atau di Indonesia biasanya buku-buku Tan Malaka.

Banyaknya remaja yang mengidap puber ini juga sempat terlihat dari cerita seorang dalang sekaligus dosen, Wahono S.Sn., M.Hum. Saat itu beliau bercerita bahwa beliau sempat mengajak debat mahasiswa yang berdemo atas nama rakyat. Beliau yang juga merupakan seorang yang kritis ini bisa dibilang kaget dengan kualitas pemikiran mahasiswa yang tidak beliau sebutkan asalnya itu. Pria yang punya sapaan akrab Mbah Wahono ini juga menyayangkan kenapa banyak anak muda yang baru baca sedikit buku namun sudah seakan merasa diri mereka kritis, padahal nyatanya kurang.

Kondisi yang Mbah Wahono ceritakan ini adalah sedikit perwakilan dari banyaknya remaja yang puber intelektual seperti Rafi Azzamy. Percayalah, kondisi ini wajar terjadi.

Baca juga: Mahasiswa Banyak Aksi Tapi Sebenarnya Pamer Eksistensi?

Rafi Azzamy Marah-marah Adalah Sebuah Kewajaran

Kemarahan Rafi Azzamy di acara UMM karena tidak mendapatkan kesempatan bertanya adalah sebuah kewajaran. Saya berkata ini karena saya dulu adalah orang yang sukanya marah-marah. Mungkin lebih parah daripada Rafi Azzamy yang marah-marah di acara UMM karena saya sempat menyindir dosen saya di depan beliau saat tidak puas akan pembelajaran. Tolong jangan kalian tiru.

Dari sudut pandang saya yang mantan orang pemarah (mungkin sekarang sisa-sisanya masih ada), ketidakstabilan emosi Rafi Azzamy masih bisa dipahami. Dia masih baru saja mentas dari bangku SMK dan masuk ke dunia perguruan tinggi yang mana kondisi ini jelas menjadi perwakilan usianya yang masih sangat muda.

Kembali ke dunia perkembangan remaja, pada nyatanya, kondisi ini wajar terjadi. Anak akan mudah tidak puas dan memiliki emosi yang meledak-ledak. Mereka seakan ingin menunjukkan kuasanya, eksistensinya terhadap suatu hal. Itulah yang saya pelajari dalam psikologi perkembangan remaja ketika kuliah dulu.

Jika kita menuntut Rafi Azzamy memiliki attitude yang sangat dewasa dan tidak marah-marah, saya akan mengatakan itu adalah hal yang sangat utopis dalam kasus ini. Kita berhadapan dengan seorang remaja yang sedang mengalami fase transisi, akan sangat tidak masuk akal ketika kita menuntut dia melebihi kapasitas emosionalnya sekarang.

Baca juga: Faktor Penyebab Orang Marah Saat Pandemi Covid 19

Sudah, Nggak Usah Nge-bully Rafi Azzamy

Nge-bully Rafi Azzamy karena marah-marah yang berlebihan adalah hal yang nggak logis. Meskipun saya sendiri merasa Rafi memang berlebihan dalam menyikapi hal yang menurut saya sepele dan pernah saya alami. Hal yang sebaiknya kita lakukan sekarang ini adalah memberinya ruang untuk berkembang karena dia masih remaja. Saya sendiri memang percaya bahwa dia adalah sosok yang cerdas namun dia perlu waktu untuk menjadi dewasa.

Justru dengan menuntutnya dengan hal yang muluk-muluk malah menunjukkan bahwa kitalah, orang yang nge-bully Rafi, yang tidak dewasa.

Baca juga: Aneh Sampai Tua, Ketika Kecerdasan Intrapersonal 0 Besar

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini