Waktu Baca: 3 menit

Ketika saya membaca briefing berita ter-hot seminggu ini, saya kaget. Nomor satu itu Reza Arap dan Wendy Walters. Iya! Di saat kita ada isu lain yang lebih penting seperti ratifikasi UU Perlindungan Data Pribadi (PDP), hakim Mahkamah Agung ketangkep KPK dan Korupsi Senilai 16 Milyar Rupiah di Waskita Beton, kita memilih membahas Reza Arap dan Wendy Walters? Sungguh suatu prioritas yang baik sekali ya saudara saudara. Kejadian ini menunjukkan tingkat intelektualitas satu Indonesia begitu ya tampaknya. He..He..

Jangan marah dulu, tadi itu adalah ungkapan kekesalan saya yang  sangat di permukaan sekali. Aslinya, saya berusaha memahami mengapa orang Indonesia merasa perlu membicarakan Reza Arap dan Wendy Walters. Kita cobalah jangan ngejudge dulu, coba kita berpikir jernih sebelum ngomong: As*. Ya? Siap empati? Siap memahami orang lain?

Personifikasi

Dalam ilmu psikologis, ada personifikasi dan asosiasi. Aku gak ambil ilmu psikologi, tapi belajarlah sedikit banyak untuk jadi cukup sok tahu. Tapi harus dipahami dulu ya teman teman, bahwa kita mengasosiasikan diri kita dengan orang lain yang kita anggap relate dan versi ideal dari kita.

Misalnya, Prabowo mengasosiasikan diri dengan Soekarno. Lhah iya, menurut Prabowo, Soekarno itu versi ideal dari dirinya. Walaupun kalau tampilan beda ya. Bapak ibunya juga beda. Jumlah istrinyapun berbeda. Anyway, tahulah ya maksud saya? Jangan nanti saya digeruduk karena menggunakan perumpamaan ini.

Baca juga : Reza Arap Selingkuh Pertanda Bucin di Media Sosial Adalah Kebohongan?

Intinya ya kan ini subyektif kalau Prabowo mengasosiasikan dan mem-personifikasikan dirinya sebagai Soekarno.

Nah, dalam kasus Reza Arap dan Wendy Walters, banyak orang Indonesia merasa Reza Arap adalah versi diri mereka yang paling ideal. Iya, Reza Arap yang gak ganteng, lahir dari kesulitan dan sebagainya, tapi bisa merubah nasib dan punya pasangan cakep (menurut orang orang, aku sih enggak suka yang oriental banget) kayak Wendy Walters.

Itu!

Banyak juga perempuan yang mengasosiasikan dirinya seperti Wendy Walters. Setia, meski pasangannya mungkin bagi beberapa orang kurang tampan. Kasar, tapi setia terus sama pasangannya yang kurang tampan. Cakep juga, meski punya pasangan…ah sudahlah…aku tuh gak mau bilang jelek karena takut aja dibilang bullying. Tapi kamu tahulah maksud aku.

Satu Indonesia

Jadi banyak yang mimpi b*s*h..sorry…kasar kali…day dreaming, itu lebih tepat kayaknya, membayangkan bahwa mereka dan pasangan mereka adalah Reza Arap dan Wendy Walters. Ini nih sebenarnya sikap yang gak sehat. Hidup kamu ya hidup kamu. Jangan suka mengasosiasikan diri sebagai pasangan tertentu begitu. Itu yang terjadi nih dengan Satu Indonesia.

Baca juga : Film Miracle In Cell No.7 Versi Indonesia Jadi Remake Terbaik

Tapi ya namanya media sosial. Banyak orang bermimpi yang enggak enggak karena melihat kehidupan orang lain di media sosial. Padahal, itu semua kadang cuma bungkus, pahit pahitnya mah banyak.

Hancur!

Isu perselingkuhan Reza Arap dan Wendy Walters membuat orang merasa bingung, heran dan penasaran. Lho kan harusnya mereka berdua begini..kok jadinya begitu..ada apa? What’s wrong? Gitu kan ya kira kira? Nah, kita di media, ya cuma nerima briefing, disuruh bikin berita updatenya ya kita kerjakan aja.

Butuh makan bos!

Baca juga : Marshel Widianto Sebenarnya “Dikorbankan”?

Nah, setelah kita belajar ya. Kita jadi mengerti. Kita jadi paham bahwa isu perselingkuhan Reza Arap dan Wendy Walters ini buat satu Indonesia atau seenggaknya sebagian besar orang itu, menyakitkan. Kenapa, karena kamu kayak merasakan kehilangan harapan. Kok pasangan ideal ini ternyata begitu. Where is the Love? Kalau kata Black Eyed Peas.

Sakit? Gak sih aku kan gak pernah ngikutin mereka. Tapi aku empatik, beberapa dari kalian pasti merasa sakit.

Pelajaran

Tapi balik lagi, ada pelajaran yang kita ambil.

Hubungan yang lancar itu, usaha dua orang. Mau sebaik baiknya Anang Hermansyah yang bahkan diakui KD sendiri di buku biografinya, kalau yang usaha cuma satu orang, hubungan bakal bubar. Jadi carilah pasangan yang emang mau saling berusaha, sesusah apapun masalah kalian.

Kedua, jangan suka lihat media sosial dan menganggap yang di medsos itu asli. Enggak! Medsos itu cuma sampul, personal branding. Anda kira saya sebahagia itu seperti di Instagram? Ya enggaklah! Makanya, kagum boleh baper jangan.

Baca juga : Perlukah Kita Menerapkan Quiet Quitting di Dunia Kerja?

Terakhir, pasangan ideal itu gak ada patokannya. Jadilah pasangan yang ideal menurut nyamannya kamu dan senengnya kamu. Gak perlu merasa harus jadi kayak Reza Arap dan Wendy Walters yang gaya komunikasinya terus terang dan to the point. Nggak perlu! Gak perlu juga harus sopan dan berpendidikan banget kayak Habibie dan Ainun! Gak perlu. Jangan perlu juga kaya Maudy Ayunda dan entah-siapa-namanya-gue-gak-ngerti yang apa apanya harus inspiratif, tertata dan seolah sangat better than dream. Itu gak perlu juga! Kamu cukup bahagia dengan caramu dan pasanganmu berinteraksi. Gak usah sok sok an ngasi contoh dan ngasi quotes inspiratif. Yang penting usaha, share cerita sukses gak pa pa, asal gak terlalu pencitraan juga.

Jadi itu ya teman teman pelajaran yang kita ambil. Mau meratapi Reza Arap dan Wendy Walters silahkan. Toh kami butuh traffic. Tolong share dan klik yang banyak. Tapi, tolong jangan terlalu lama, ayo kembali ke dunia nyata, menjalani hari bersamanya dan memahami bahwa untuk sayang sama cewekmu kamu gak perlu manggil dia ‘Nyet!’.

Salam olahraga!

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini