Waktu Baca: 3 menit

Peribahasa ‘Mulutmu Harimaumu’, ‘Congormu Ancurmu’, nampak benar sekali kita terapkan dewasa ini pada para politisi Indonesia. Kenapa demikian? Hal tersebut tak lepas dari seringnya politisi Indonesia melakukan kebodohan kebodohan dalam bicara alias salah ngomong. Misalnya saja ketika Suharso Monoarfa dengan santainya menyebut bahwa budaya korupsi sudah menjalar sampai pesantren dalam bentuk ‘Amplop Kiai’.

Entah apa yang ada di pikiran pak Monoarfa. Akibatnya fatal, ia kehilangan posisi sebagai Ketua Umum PPP. Lanjut, kita juga ada kasus politisi PDIP, Effendi Simbolon, yang seenaknya menyebut TNI sebagai gerombolan. Begini..masuk TNI itu sulit dan diuji secara akademis dan psikologis serta fisik juga. Kayaknya kurang tepat menyebut mereka gerombolan. Seolah olah mereka ini preman dan tidak berpendidikan. Ya sudah, begitulah.

Baca juga : Salah Tingkah Para Politisi Terkait Proses Hukum Ferdy Sambo

Kalau kita tarik ke belakang, ada sosok Arteria Dahlan. Politisi PDIP ini memang sering salah ngomong. Tapi salah ngomongnya yang paling epik adalah ketika menyebut pejabat Kemenag b*ngs*t. Omongan omongan seperti ini tentu memancing emosi dan tidak sesuai dengan norma norma Ketimuran.

Lanjut, ada kasus Saud Situmorang yang menyebut bahwa di HMI ada budaya korupsi. Ketika yang menyebut hal seperti ini adalah wakil ketua KPK, tentu bobotnya berbeda. Tidak usah kaget ketika akhirnya gedung KPK yang waktu itu masih di jalan Rasuna Said dikepung.

Masih mau contoh lagi? Ingat ada kasus Gubernur DKI Jakarta, Basuki Tjahaja Poernama alias Ahok, yang membahas surat Al-Maida yang sebenarnya gak dia paham-pahami amat. Akibatnya fatal, hampir ‘selesai’ Jakarta!

Mengapa Politisi Salah Ngomong?

Kalau mau ditanya, kenapa politisi sering salah ngomong, jawabannya sederhana: karena mereka manusia. Iya, karena mereka manusia makanya mereka sering salah ngomong. Contoh saja, Arteria Dahlan adalah anggota DPR yang mendapatkan posisinya lewat skema PAW (Pergantian Antar Waktu). Kalau bahasa kerennya: hoki. Mungkin Arteria merasa perlu memberi penekanan bahwa ia gak sekedar hoki. Karena itulah ia berusaha terlihat asertif dan dengan mudahnya menggunakan bahasa bahasa provokatif.

Baca juga : PPP Goyah, Suharso Monoarfa Lengser! PPP Harus Bagaimana?

Lalu, ketika Ahok maju sebagai cagub DKI, angka elektabilitasnya mentok di angka 30 persenan. Meski nomor satu, Ahok diprediksi hanya akan menang di putaran pertama. Jika kemudian ada simulasi putaran kedua, ia diprediksi kalah. Banyak pemilih Jakarta yang bersikap ‘asal bukan Ahok’ karena sentimen suku, ras dan agama. Ahok mungkin sangat kesal hingga akhirnya mulutnya mrucut dan menyebut hal yang seharusnya tidak boleh ia sebut.

Tentu contoh yang saya tunjukkan tadi adalah contoh analisa personal-level. Bisa jadi saya tidak seratus persen tepat, namun ada kebenaran di dalamnya.

Suharso Monoarfapun demikian. Kegagalannya menghimpun suara kyai NU membuat ia merasa tertekan dan membuat ia mrucut salah ngomong soal ‘amplop Kyai’. Pelajaran apa yang bisa kita ambil? Kontrol diri..Ya..kontrol diri sangat diperlukan politisi kita. Jangan asal njeplak hei para politisi Indonesia.

Era Kemudahan Akses Informasi

Pada masa dulu, untuk mendapatkan ilmu dan informasi, kita harus ke perpustakaan, nunggu koran pagi dan seterusnya. Tapi era kemudahan akses sudah kita dapatkan. Ketika tv berita muncul, rata rata update berita adalah kurang dari setengah jam setelah sebuah kejadian terjadi. Kemudian, setelah sistem media online yang kita temukan di detik.com terbentuk, maka kecepatan berita bahkan bisa hanya dalam hitungan kurang dari 10 menit! Sebegitu cepat informasi tersebar dan mencapai pikiran banyak orang.

Hal inilah yang membuat salah ngomong mudah terekspos sehingga semua orang paham dan tahu ketika terjadi kejadian salah ngomong. Karena itulah, kejadian salah ngomong lebih sulit kita tutupi dan lebih mudah menjadi viral dengan efek negatif yang luar biasa.

Banyak politisi yang gak menyadari hal ini dan masih memupuk kebiasaan ngomong sekenanya dan sesuai kebiasaan mereka; di depan publik sekalipun.

Lha inilah..Yang menjadi sumber masalah.

Kesimpulan!

Ngono yo ngono neng ojo ngono kata orang Jawa. Jangan seenak jidat kalau bicara walau benar sekalipun. Inilah yang kayaknya perlu ditanamkan para politisi kita. Ingat, kegaduhan karena salah ngomong memang agak sering terjadi di Indonesia. Kalau bisa..ya jangan kita terus teruskan. Hehe..

 

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini