Waktu Baca: 2 menit

Pernyataan Presiden Keenam RI, Susilo Bambang Yudhoyono, bahwa dia akan turun gunung di Pemilu 2024 menimbulkan pertanyaan. Bukan kita melarang SBY untuk terjun dalam kontestasi. Namun, kita mempertanyakan, kalau SBY turun gunung, lalu gunanya apa? Sekali lagi, pertanyaan ini bukan untuk menghina SBY. Namun, memang keurgensian dan kepentingan untuk melihat SBY turun gunung demi Partai Demokrat ini agak buram begitu. Sepertinya, ada dan tidak ada SBY, Partai Demokrat tidak akan banyak berubah. Apa sebabnya?

Elektabilitas SBY

SBY bukan lagi tokoh dengan elektabilitas tinggi. Ia sudah tidak masuk lagi dalam bursa capres/cawapres apalagi perdana menteri. Memang, elektabilitas SBY dan nilai aksepbilitas SBY pernah sangat tinggi, tapi itu dulu. Misalnyapun elektabilitasnya rendah karena paling paling dia hanya bisa jadi wapres, setidaknya tingkat aksepbilitas (penerimaan) masyarakat pada dirinya diharapkan masih tinggi. Obama saja saat turun nilai aksepbilitasnya masih lumayan.

Baca juga : Ketika SBY Berjaya di 2004

Nyatanya SBY turun dengan kondisi nilai elektabilitas dan popularitasnya sangat rendah. Selain dianggap gagal menjaga kadernya tidak korupsi, pemerintahan SBY diwarnai dengan tumbuhnya kelompok intoleran dan redupnya pamor dirinya—terutama dalam pembangunan—karena di saat bersamaan tokoh seperti Joko Widodo menunjukkan eksistensinya.

Jadi, seandainya SBY mau menyumbangkan elektabilitas dan popularitasnya untuk mengerek Partai Demokrat, rasa rasanya ya enggak juga.

Sharing Strategi

Ibarat main bola, SBY memang pernah juara. Tapi dia seperti Porto, pernah juara, pada masanya, dengan kemenangan gilang gemilang, tapi ya cuma sekali itu saja. SBY juara tepatnya pada tahun 2009. Kemenangan Partai Demokrat waktu itu memang luar biasa. Gedung DPR seolah terbirukan. Tapi ya udah, gitu aja.

Baca juga : Siapa Sebenarnya yang Ingin Membunuh SBY?

Setelahnya, jangankan juara, Partai Demokrat kesulitan menembus dua digit! Bahkan saat SBY menang Pemilu pada 2004. Partai Demokrat juga tidak serta merta mendapatkan dua digit suara. Apalagi pada Pemilu 2014. Waduuh…kalau kata Mawar de Jong; lagi hancur hancurnya…

Jadi kalau SBY merasa dia punya kemampuan untuk sharing strategi, rasa rasanya kok gimana ya.

Ibarat Manchester City mau jadi juara Liga Champions, tapi mereka menyewa Rafael Benitez.

Pernah juara memang, tapi sudah lamaaa sekali dan itu juga ada unsur hokinya, bukan karena terbiasa menjadi pelatih jaminan juara.

Koneksi?

Mungkin SBY merasa masih punya koneksi di daerah untuk dibangkitkan lagi dan membantunya memenangkan kontestasi. Tapi, kalau mau jujur, banyak kader Partai Demokrat yang menjadi tulang punggung SBY sudah pindah jalur dan meninggal. Kok rasa rasanya, untuk koneksi juga sebenarnya SBY tidak sekuat itu.

Baca juga : Sandiaga Uno Bikin Gaduh, Ada Apa?

Baiklah kalau SBY turun gunung dan memanggil sahabat sahabatnya dulu, para jendral yang memenangkan Pemilu 2009. Pertanyaannya siapa?

Anas Urbaningrum dan Ali Marzuki tak lagi di gerbongnya. Max Sopacua sudah tak segerbong dan sudah meninggal. Angelina Sondakh tak lagi primadona.

Sementara itu, generasi baru yang punya potensi seperti TGB Zainul Majdi malah sudah memilih bergabung dengan partai Perindo.

Bisa saja saya salah nih. Mungkin aksi SBY turun gunung ini akan membangkitkan sel sel tidur yang selama ini tak terlihat.

Tapi kok rasa rasanya tidak akanlah sampai selebay itu mereka punya jumlah dan kekuatan yang luar biasa untuk membalikkan situasi parah Partai Demokrat.

Lalu Bagaimana?

Kalau menurut saya ya sudah jalani saja dulu. Kalau memang SBY turun gunung adalah yang terbaik, Partai Demokrat sah sah saja mencoba selama itu halal.

(Halah!)
Tapi dari analisa sekilas, ini tidak akan banyak merubah keadaan dan Partai Demokrat memang harus merubah visi dan misi sebelum membicarakan tetek bengek cara memenangkan pemilu.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini