Waktu Baca: 3 menit

Suku bunga The Fed kembali naik sebesar 75 bps dari suku bunga sebelumnya. Kenaikan ini adalah respon pemerintah Amerika Serikat terhadap krisis ekonomi global yang sedang terjadi sekarang. Bahkan kenaikan ini menjadi yang tertinggi sejak krisis ekonomi global yang sempat terjadi pada tahun 2008 yang lalu.

Sebenarnya kenaikan suku bunga The Fed bukan pertama kali ini terjadi. Sebelumnya, pada tahun ini, The Fed beberapa kali menaikkan suku bunga mereka. Pada saat itu, kenaikan suku bunga ini membuat banyak sekali layoff yang terjadi di perusahaan-perusahaan Indonesia. Kini, dengan suku bunga The Fed yang naik lagi, apakah berarti akan kembali terjadi layoff besar-besaran seperti kemarin?

Apa Itu Layoff?

Sebelumnya mungkin ada dari kita yang bingung mengenai layoff ini. Toh di media-media banyak yang menyandingkan layoff dengan pemecatan. Padahal kenyataannya dua hal ini serupa namun tak sama. Maka dari itu coba kenalan dulu sama istilah layoff dan bedanya dengan pemecatan sebelum berbicara soal prediksi yang akan terjadi.

Layoff adalah istilah yang mirip dengan pemecatan yang sudah umum kita gunakan di kehidupan sehari-hari. Namun pada artinya, kedua istilah ini memiliki perbedaan yang cukup mencolok meskipun sama-sama menggambarkan pekerja yang kehilangan pekerjaannya.

Pemecatan adalah sebuah kondisi pekerja yang kontraknya diputus oleh perusahaan karena kinerjanya yang dinilai buruk atau tidak sesuai standar atau juga bisa jadi kinerjanya baik namun masih di bawah rata-rata. Sementara itu, layoff adalah pelepasan atau pemutusan kontrak pekerja bukan karena kinerja pekerja yang buruk (ya mungkin bisa jadi baik buruknya juga perusahaan perhitungkan). Layoff sendiri merujuk pada kondisi finansial perusahaan yang buruk sehingga harus melepas sedikit atau banyak pegawainya dalam waktu yang bersamaan. Maka dari itu bisa kita simpulkan bahwa pemecatan bersangkutan dengan kinerja pegawai sementara layoff merujuk pada keuangan perusahaan yang buruk.

Baca juga: Pelajaran Dari Layoff Beritasatu

Apa Antara Hubungannya Suku Bunga The Fed dengan Perusahaan Indonesia?

Nah, kira-kira apa hubungannya suku bunga The Fed dengan perusahaan di Indonesia? Bahkan kok bisa sampai ada hubungannya dengan layoff besar-besaran?

Suku bunga ini bakalan menjadi hal yang menarik bagi investor. Semakin besar suku bunga yang bank tawarkan maka semakin besar juga return yang akan investor dapatkan. Dalam kasus ini kenaikan suku bunga The Fed dapat memancing investor untuk lebih memilih berinvestasi di Amerika Serikat daripada di Indonesia.

Hal ini ternyata sudah terjadi lho. Menurut datanya Bank Indonesia alias BI, jumlah investasi yang keluar dari Indonesia jumlahnya cukup tinggi yaitu 7,34 triliun rupiah. Besar banget ya.

Dengan keputusan investor untuk mencabut investasi mereka di Indonesia, perusahaan-perusahaan Indonesia akan kehilangan sumber modalnya. Dengan kata lain bisa kita artikan sebagai pendapatan mereka bisa termasuk pada klasifikasi “menurun”.

Menurunnya jumlah investasi perusahaan gara-gara investor yang memilih kabur ke Amerika Serikat bakalan menambah beban perusahaan. Salah satu yang bisa menjadi beban terberat yang perusahaan pikul adalah masalah beban gaji. Maka dari itu, semakin tinggi suku bunga The Fed, semakin tinggi pula kemungkinan perusahaan Indonesia kehilangan investor mereka dan berimbas pada pemberlakuan layoff.

Baca juga: Investasi di Reksadana, Pilihan Terbaik Bagi Pemula

Kalau Begitu Akankah Terjadi Layoff Besar-besaran?

Jika kita berkaca pada yang sudah-sudah, apakah akan ada layoff besar-besaran lagi karena suku bunga The Fed naik?

Kalau saya secara pribadi mungkin bisa jadi nggak. Kok bisa nih? Apa yang terjadi sebelumnya bisa kita asumsikan sebagai keterkejutan perusahaan dan ketidaksiapan mereka menghadapi krisis ekonomi global. Banyak perusahaan yang mempertahankan jumlah karyawannya hingga batas kekuatan finansial mereka.

Namun, karena sudah ada layoff di depan duluan serta mereka sudah bisa memprediksi kenaikan suku bunga The Fed perusahaan sudah memperhitungkan baik-baik kondisi keuangan mereka. Wajarnya, perusahaan harus memiliki dana setidaknya untuk hidup selama 3 bulan tanpa pendapatan. Saat melakukan layoff sebelumnya, sudah pasti perusahaan sudah memperhitungkan hal ini sehingga mereka tidak perlu melakukan layoff besar-besaran kembali.

Tapi toh, namanya dunia ekonomi, segalanya hanya sebuah prediksi. Layoff besar-besaran tetap bisa terjadi suatu saat nanti. Kita sebagai karyawan hanya bisa was-was dan mempersiapkan pendapatan dari sektor lain.

Baca juga: Peluang Bisnis di Bidang Ternak Untuk Investasi Masa Depan

Ilustrasi foto oleh Karolina Grabowska

1 KOMENTAR

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini