Waktu Baca: 3 menit

Pembahasan soal tim bayangan Kemendikbud menyeruak ketika Tempo merilis laporannya. Banyak pengamat yang mengatakan bahwa Nadiem ini nggak kredibel karena harus menggunakan tim bayangan yang jumlahnya 400 orang ini. Protes juga datang dari para ASN karena seakan-akan membuat tugas mereka jadi sekedar “tukang cap” semata.

Namun, dalam prakteknya, tim ini memanglah dibutuhkan oleh Nadiem, bahkan Indonesia. Pilihan Nadiem untuk punya tim bayangan adalah keputusan yang benar, bukan keputusan yang sembarangan. Anehnya, kenapa tim ini malah disalahkan oleh berbagai pihak?

Selama Ini Pendidikan Nggak Pernah Berkembang

Sejak zaman Pak SBY dahulu, karena saya pertama kali merasakan pendidikan saat era Pak SBY, nggak ada perubahan yang signifikan di tahun-tahun berikutnya. Biasanya ganti kurikulum tapi cara pembelajaran masih sama. Bahkan ketika saya lulus SMA pun saya nggak bisa ngeh apa yang berubah dari pendidikan Indonesia padahal sejak 2004 lalu sudah ada 5 orang yang menjabat sebagai Menteri Pendidikan. Atau saya yang terlalu buta soal perkembangan pendidikan kita?

Pendidikan selalu gitu-gitu aja. Isinya cuma bagaimana anak pinter hafalan tanpa tahu secara utuh konteks dan fungsi dari apa yang mereka pelajari. Saat itu, lebih parah daripada sekarang, pembelajaran kontekstual sama sekali nggak ada. Pada zamannya, ketika SD dulu, saya sampai harus dikeluarkan dari kelas karena nggak hafal materi enzim-enzim di tubuh karena memang materi hafalan adalah momok bagi saya.

Sistem kerja pendidikan yang gitu-gitu aja lahir dari Kementerian yang sejatinya nggak berkembang pula. Kerja mereka begitu saja sehingga nggak menghasilkan budaya pendidikan yang baru.

Saya juga mengingat saat saya SMA di Gunungkidul dahulu, saya sedang mengurus berkas di Dinas Pendidikan di sana, bayangkan saja, jam 1 lebih sedikit orang di Dinas Pendidikan sudah hilang begitu saja. Saya tunggu sampai jam 2 tidak ada yang datang.

Jadi nggak mengejutkan Indonesia menjadi negara dengan IQ terendah kedua di ASEAN.

Baca juga: Apa Sih yang Hilang Dari Pendidikan Indonesia?

Bagai Oli Pada Rantai

Dengan kinerja dan budaya kerja yang begitu-begitu saja sejak 2004 lalu, membawa perubahan di sistem pendidika jelas nggak mudah. Akan selalu ada orang-orang kolot yang berkata pada “Adate kan koyo ngene (Biasanya kan kerjanya seperti ini,” sebuah kalimat yang menunjukkan orang-orang yang nggak mau berubah.

Keberadaan 400 orang tim bayangan Kemendikbud bisa jadi oli Nadiem untuk melakukan perubahan. Maka dari itu, bukan hal yang mengejutkan jika posisi mereka seperti boss dan ASN hanya jadi tukan stempel saja.

Oli pada rantai ini juga penting untuk menggerakan perubahan di mana proses pemilihan ASN sering nggak masuk akal. Bahkan, jika kalian adalah seorang guru, test CPNS bisa masuk dalam kategori soal yang nggak valid untuk diujikan. Butir-butir soalnya tidak menunjukkan korelasi dengan standar yang dibutuhkan sesungguhnya. Bila soal ini saja nggak valid, tidak memenuhi kriteria sebagai soal yang baik, bisa kita kita bayangkan bagaimana caranya mereka menyeleksi.

Baca juga: SBY Turun Gunung? Buat Apa?

Nadiem Makarim Nggak Bisa Kerja Sendirian

Saya dahulu pernah mencoba membawa perubahan pada suatu event yang tradisinya sudah gitu-gitu aja sejak dulu. Meskipun selalu mendapatkan cap sebagai event gagal di kampus, panitia dari tahun ke tahun selalu punya seluk beluk yang sama. Pada akhirnya saya tahu bahwa selalu ada “orang dalam” panitia lama yang membuat kebiasaan kerja yang nggak efisien terus dilakukan.

Ketika saya mencoba mengubah pola ini, jelas saya juga harus punya tim yang saya pegang sendiri untuk menggeser budaya yang ada. Saya nggak bisa kerja sendiri dan berharap pada orang yang baru saya kenal ketika open recruitment—yang mana bisa disusupi oleh orang lama. Akhirnya karena “tim bayangan” versi saya ini saya terbantu dan sukses menggebrak event kampus yang membosankan jadi meledak dan bikin panitia lama sakit kepala.

Begitu pula dengan Nadiem, jika dia harus bekerja dengan orang lama yang etosnya begitu-begitu saja maka Nadiem seperti bekerja sendiri. Jika merubah event kampus harus ada “tim bayangan”-nya bagaimana dengan Kementerian? Pasti lebih kompleks daripada sebuah acara kampus.

Jika saja nggak ada tim bayangan ini, bisa jadi kita nggak pernah merasakan adanya Kampus Merdeka, Merdeka Belajar dan lain sebagainya. Manuver dari Nadiem bisa tersendat dengan budaya kerja dan ASN yang begitu-begitu saja. Maka dari itu, sebenarnya, tim bayangan Kemendikbud ini memang diperlukan. Lalu buat apa kita protes?

Baca juga: Kurikulum Merdeka Adalah Kurikulum Kacau?

Sumber gambar: @nadiemmakarim

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini