Waktu Baca: 3 menit

Ketika saya mencari Tongkah Kopi, saya kesulitan. Maklum, tempatnya nyempil. Sudah nyempil, tempatnya tertutup oleh berbagai tanaman yang rimbun, mulai dari Honje, Gelombang Cinta hingga tanaman tanaman rimbun lainnya.

Ketika kita akhirnya bisa menemukan jalan kesana, kita akan menemukan tempat yang asri. Bar yang menjadi dapur pembuatan kopi merupakan teras rumah yang memiliki meja kayu besar. Ada alat penyaring V60. Lalu ada juga grinder dan sebagainya. Di sana, kita bisa melihat langsung kopi pesanan kita diracik sambil ngobrol dengan pemilik.

tongkah kopi dan coffe bar yang menarik
Suasana seru di meja Barista
Awalnya Iseng

Saya menyempatkan diri ngobrol dengan Barkah. Barkah adalah salah satu dari empat pemilik Tongkah Kopi. Hari itu ia tugas bersama dengan Edo, partner sekaligus pemilik rumah.

Mereka ini awalnya mendirikan Tongkah Kopi karena hobi nongkrong. Lama nongkrong, mereka berpikir bahwa harus ada perubahan positif dalam kehidupan mereka. Terbesitlah dalam pikiran mereka untuk membuat warung kopi bareng bareng di teras rumah Edo.

Tongkah Kopi
Desain lukisan lukisan yang menghiasi dinding

“Waktu itu kami ya tidak kepikiran harus didesain seperti apa atau temanya musti gimana. Yang penting warung kopi saja sebenarnya,” jelas Barkah.

Bahkan nama Tongkah Kopi sendiri tidak jelas asal usulnya.

“Tidak tahu, enak saja didengar,” jelas Barkah ketika ditanya asal nama Tongkah. Ia lantas tertawa.

Mulut ke Mulut

Kalau kita memakai logika dagang, rasa rasanya tidak wajar hingga Tongkah Kopi menjadi seramai itu. Tempatnya memang mewah alias mepet sawah. Namun, daerah itu sangat sepi, jarang ada kendaraan berlalu lalang. Selain itu, tidak ada plang penunjuk jalan untuk memberitahu kita dimana letak Tongkah kopi itu. Jadi, orang bisa keblusuk dan kebingungan mencari tempat ini.

Tongkah Kopi sedang diolah

Tapi nyatanya..ya selain karena kopinya enak, orang tahu tempat ini. Merekapun bergantian datang dan mengunjungi tempat ini. Tak heran tempat ini selalu ramai pengunjung.

Padahal metode promosinya selain dari mulut ke mulut ya betul betul cuma media sosial. Benar benar unik.

Vibes Homy dan Keluarga

Mungkin alasan mengapa tempat ini begitu menarik adalah vibes kekeluargaan yang ada di sana. Kita bisa merasakan bahwa tempat ngopi ini bisa memberikan rasa kekeluargaan di sini. Tongkah Kopi memang dibangun oleh orang orang yang berteman dan sudah seperti keluarga. Rasanya sungguh nyaman di sana.

Bahkan ada keunikan lain, tempat ini tidak hanya melibatkan lingkaran pertemanan. Lebih dari itu, bahkan orang tua salah satu pendiri, yaitu ibu Mas Edo, ikut menjadi chef dadakan di sana. Ia menyediakan berbagai masakan untuk dinikmati di sana.

Wah, klop betul suasana kekeluargaan dan asri di sana.

Ingin Pulang…

Kalau saya, sekali kesana, rasanya ingin pulang ke Tongkah Kopi. Tongkah kebetulan dalam bahasa Indonesia artinya tempat yang ditinggikan di taman atau tempat outdoor lain yang dibangun agar tidak tergenang air. Orang dapat berjalan di atas tongkah agar terbebas dari resiko sepatu atau alas kaki yang basah.

Bagi saya itulah Tongkah Kopi. Tongkah adalah definisi saya tentang escape plan. Kabur sejenak dari kesibukan untuk menikmati keindahan alam dan cerita cerita di dalamnya.

Pengen merasakan rasa rumah dan kangen yang seperti saya rasakan? Tidak usah mikir panjang, langsung saja cicipi perasaan itu di Tongkah Kopi.

Baca juga :

Teras Menoreh, Sederhana Tapi Memorable

50/50 Café dan Industrialisme Magelang

 

1 KOMENTAR

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini