Waktu Baca: 3 menit

Selama saya bekerja di Kalimantan saya mengalami hal-hal yang tak terlupakan.

Sepanjang saya hidup, salah satu pengalaman paling tidak terlupakan adalah ketika saya bekerja di Sangatta. Sangatta adalah Ibukota Kabupaten Kutai Timur yang terletak di Provinsi Kalimantan Timur. Saat itu saya bekerja di salah satu kantor konsultan lingkungan hidup sehingga saya rajin bolak-balik Jakarta – Sangatta setiap beberapa minggu sekali.

Ada banyak pengalaman tak terlupakan selama saya bekerja di Sangatta. Saya akhirnya berkesempatan untuk melihat betapa luasnya Indonesia setelah menghabiskan sebagian besar hidup saya di Kota Bandung. Ada lima hal tak terlupakan yang saya rasakan ketika bekerja di Kalimantan tersebut.

Susahnya Mobilitasi

Selama bekerja di Sangatta, saya menyaksikan secara langsung kalimat “Indonesia hanya sebatas Pulau Jawa”. Selama ini saya hanya mendengarnya lewat televisi, media sosial, maupun ruang perkuliahan.

Untuk menuju Sangatta, saya masih harus menggunakan pesawat kecil milik salah satu perusahaan tambang di Sangatta. Saya berangka dari Bandar Udara Internasional Sultan Aji Muhammad Sulaiman Sepinggan Balikpapan selama kurang lebih satu jam. Jika saya menggunakan jalur darat, bisa menghabiskan waktu sekitar delapan jam perjalanan. Udah gitu jalanannya gak semulus jalanan di Pulau Jawa. Pastinya bikin capek banget. Makanya, saya dan rekan kerja saya mau nggak mau naik pesawat kecil biar bisa segera sampai di Sangatta.

Baca juga: Apakah Bus Transjakarta Pink Bisa Menjadi Solusi Baik Bagi Perempuan?

Fasilitas Umum yang Minim

Dari jendela pesawat, saya menyaksikan kontrasnya kondisi perkotaan dan pedesaan di Kalimantan dengan kondisi perkotaan dan pedesaan di Pulau Jawa. Belum semua jalan sudah beraspal karena kondisi geografis Kalimantan yang masih berupa hutan belantara, tidak seperti di Pulau Jawa yang hutannya sudah gundul.

Memang, saat saya tiba di Kota Sangatta, terdapat sejumlah fasilitas mewah seperti Alfamart dan Indomaret hingga lapangan golf untuk ekspatriat setempat. Tapi fasilitas umumnya minim banget.

Kondisi rumah sakit di sana menurut saya kurang dari layak. Rekan kerja saya bercerita, banyak pasien terpaksa dirujuk ke Balikpapan bahkan ke Pulau Jawa karena fasilitas rumah sakit setempat dan nakes yang bertugas belum mampu menangani kasus-kasus medis dalam skala besar.

Fasilitas pendidikan gak usah kalian tanya. Sejumlah gedung sekolah milik pemerintah saya lihat kondisinya sungguh memperihatinkan. Hampir gak ada kendaraan umum sama sekali, terutama saat malam hari. Sudah gitu, jalanannya gelap banget karena kualitas dan kuantitas lampu Penerangan Jalan Umum (PJU) di sana minim banget.

Baca juga: Pilih Kasih Fasilitas Umum untuk Kaum Disabilitas

Sulit Mencari Hiburan

Di Sangatta, fasilitas hiburan minim banget. Makanya rekan kerja saya bercerita, jarang banget lulusan teknik ITB, UI, UGM maupun lulusan kampus lainnya di Pulau Jawa betah berlama-lama kerja di sini meskipun gajinya besar. Fasilitas hiburannya gak selengkap dan seramai di Pulau Jawa sana.

Gak seperti kota-kota di Pulau Jawa yang minimal memiliki satu mall besar berisikan bioskop lengkap dengan segala hiburan di dalamnya. Saat di Sangatta, saya harus berkendara selama kurang lebih empat jam ke Samarinda kalau mau nonton bioskop. Untungnya, tersedia WiFi di kamar yang saya tempati, jadi saya memilih untuk main gim dan nonton YouTUbe saja di kamar daripada harus jauh-jauh ke Samarinda untuk sekadar nonton bioskop.

Baca juga: Pantai Ngrawah, Hidden Gems Indah Di Gunungkidul

Banyak Hewan Langka

Selama ini, saya menyaksikan kawanan primata seperti monyet, bekantan, hingga orangutan di kanal Animal Planet maupun National Geographic. Saat saya bekerja di Sangatta, saya menyaksikan kawanan primata tersebut secara langsung dari teras kamar saya. Mereka lagi asyik bergelantungan di pohon-pohon sambil melihat saya yang asyik mengambil foto mereka untuk konten sosmed saya. Hahahaha!

Rekan kerja saya selalu mengingatkan saya untuk selalu mengunci rapat jendela dan pintu kamar saya karena rumahnya pernah didatangi kawanan monyet dan mengacak-ngacak dapurnya. Kalau sekadar ngacak-ngacak sih mending. Banyak warga sana yang kedatangan ular. Bahkan hampir setiap tahunnya selalu ada berita warga yang diserang buaya setempat saat sedang berada di pinggir sungai. Kalau kamu ke Kalimantan, hati-hati dengan hewan buas di sini ya karena masih banyak hewan buas di sini!

Baca juga: Mencari Pengakuan Hak Hewan di Mata Manusia

Banyak Kejadian di Luar Logika

Biasanya, lulusan perguruan tinggi seperti ITB maupun UI selalu berpikiran logis dan tidak percaya takhayul kan? Nah, banyak rekan kerja saya lulusa ITB dan UI malah percaya takhayul karena mereka menyaksikan sejumlah kejadian mistis di hadapan mereka sendiri.

Seperti (maaf), seorang pria yang kehilangan alat vitalnya setelah buang air kecil sembarangan dan anehnya alat vitalnya kembali seperti semula setelah melakukan sejumlah ritual dengan menghadap ketua adat setempat. Ada juga kejadian orang yang mendadak jadi ODGJ (orang dengan gangguan jiwa) setelah menolak jamuan warga setempat ketika berkunjung ke rumahnya.

Saat mendengar cerita ini, mereka menasihati saya untuk mematuhi segala aturan yang  warga setempat buat. Saya juga diminta untuk setidaknya mengkonsumsi jamuan yang disajikan tuan rumah ketika berkunjung ke rumahnya biar saya tidak mengalami kejadian-kejadian tersebut. Saya masih tidak percaya, tapi kejadian tersebut nyata adanya dan saya hanya bisa mengangguk-ngangguk saja sebagai tanda setuju.

Baca juga: Wayang Itu Klenik? Begini Penjelasan dari Dalang

Penutup

Itulah lima hal yang saya rasakan ketika bekerja di Kalimantan beberapa tahun yang lalu. Tulisan ini bukan untuk ngejelek-jelekin Kalimantan ya, tapi biar bisa dibaca pemerintah dan masyarakat Indonesia lainnya tentang tidak meratanya pembangunan di Indonesia.

Selain itu, bentar lagi kan bakalan ada Ibukota Negara yang baru di Penajam Paser Utara, Kalimantan Timur. Mudah-mudahan ibukota baru ini bisa mengubah Kalimantan secara drastis dari segi pembangunan tanpa menganaktirikan warga lokal serta merusak hutan dan mengusik hewan langka di sana.

Artikel ini juga terbit di wisnu93.com

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini