Waktu Baca: 2 menit

Melihat kiprah Partai Solidaritas Indonesia hingga kemarin, saya melihat Partai Solidaritas Indonesia adalah refleksi partai modern yang berbasis dengan medsos. Bagus sih, kalau caranya benar dan tidak melulu mengandalkan medsos saja.

Medsos saja tidak cukup untuk memenangkan kontestasi politik. Selama ini, saya melihat PSI rajin bergerilya, berpromosi dan menyerang di media sosial. Mereka juga dekat dengan masyarakat media sosial. Mereka juga punya panggilan akrab yang unyu banget: bro dan sis. Panggilan yang menjadi identitas mereka dalam menunjukkan kedekatan dan keberpihakan pada kaum muda yang nasionalis (dan liberalis).

Tapi lagi lagi, pertarungan politik ditentukan di dunia nyata bukan maya. Karena sibuk di dunia maya, PSI tidak sadar mereka lemah di dunia maya dan melakukan kesalahan di dunia nyata. Yang terbaru, mari kita lihat betapa konyolnya, dukungan PSI pada Ganjar Pranowo tempo hari yang buat saya hanya sensasional tapi tidak vital untuk perjalanan PSI.

Dukungan Pada Ganjar Pranowo itu Bodoh!

Iya, menurut saya bukan salah Ganjarnya, bukan juga PSI tidak boleh mendukung Ganjar. Namun, keputusan PSI untuk mendeklarasikan dukungan hanya selang satu hari dengan pencalonan Anies Baswedan menunjukkan sikap kekanak kanakan Partai Solidaritas Indonesia. Partai Solidaritas Indonesia adalah partai anak muda, tapi bukan partai anak anak.

Baca juga : PSI Ini Buzzer Atau Partai?

Dukungan pada Ganjar Pranowo tidak cerdas sama sekali. PSI tidak memiliki kursi di parlemen. Mereka harus membuat koalisi kalau memang mau mengajukan Ganjar. Nggak mungkin mereka jadi pemimpin koalisi. Kursi saja tidak punya.

Kesannya apa? PSI cuma mau ngisruh, tidak terima Anies Baswedan sudah selangkah lebih maju. PSI harus coba berhenti memusuhi Anies Baswedan. Nggak begitu caranya.

Mungkin mereka harus belajar dari filosofi Jokowi: Kerja, Kerja, Move on!

Kalah Dengan Perindo

Dibandingkan dengan Perindo yang terus merekrut kader terbaik dan menjalankan operasi lapangan dengan lebih efektif, PSI ketinggalan. Sama sama partai non-parlemen dan masih berjuang meraih suara, menurut saya Perindo jauh lebih efisien dan baik.

PSI malah sibuk bergerilya di medsos dan media mainstream. Hobi menyerang Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan, rajin dipupuk. Untuk apa? Toh pertandingan sudah selesai. Politik cair. Apakah benar Ahok kalah hanya karena masalah agama? Apakah benar Anies super pragmatis dan rasis memanfaatkan isu penistaan agama? Saya kira ini perlu diperdebatkan. Kalau menunggangi isu agama semudah itu, kenapa Agus Harimurti Yudhoyono kalah? Padahal logistik ia lebih kuat. Koalisi juga lebih besar. Anies Baswedan merapat di detik akhir lhoh. Ia tidak sempat membangun elektabilitas. Menuduh Anies cuma modal main agama itu gak bijak sama sekali. PSI harus move on.

Baca juga : Ada Apa Dengan PSI? Mau Kemana?

Kebencian pada Anies ini akhirnya berujung pada blunder politik PSI yang konyol: deklarasi dukungan pada Ganjar Pranowo ini!

Jujur Saja…

Rasa rasanya deklarasi dukungan pada Ganjar Pranowo ini tidak ada bobotnya dan menunjukkan sikap iri hati dari PSI. Gak gentle dan gak terhormat.

Sebelumnya PSI juga sudah pernah mendeklarasikan capres yaitu pada diri ketua umum Giring Ganesha. Hasilnya apa? Tidak ada! Kesannya PSI seolah olah hanya waton deklarasi hanya demi agar seluruh sorotan media tidak terarah ke Anies Baswedan.

Baca juga : Sibuk Ngurusin Amplop Kiai, Suharso Monoarfa Seolah Lupa Masalah Korupsi Serius di PPP

Mungkin ini harus dicamkan pada PSI. Mereka ini bukan Partai Solidaritas Jakarta tapi Partai Solidaritas Indonesia.

Namun nasi sudah menjadi bubur, dengan kejadian ini. Harapannya PSI lebih bijak dan terkenal tidak hanya sebagai partai anti Anies.

 

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini