Waktu Baca: 3 menit

Beberapa tahun yang lalu, saya sempat bekerja di Jakarta. Lewat tulisan ini, saya ingin menceritakan culture shock atau perasaan terkejut yang pernah saya rasakan saat bekerja di Jakarta untuk pertama kalinya setelah saya lulus kuliah.

Disclaimer, jauh sebelum bekerja di Jakarta, saya sudah sering berkunjung ke Jakarta sejak kecil untuk berlibur maupun berkunjung ke sanak saudara yang tinggal di sana. Tapi atmosfernya beda banget! Di Jakarta untuk urusan pribadi dan di Jakarta untuk urusan kerja. Nah, tanpa banyak basa-basi, berikut ini kisah saya yang mengalami culture shock ketika harus merantau ke ibukota dari Bandung!

Jakarta itu Panas!

Poin pertama ini saya rasa gak usah dijelaskan lagi ya? Jakarta jelas beda dengan Bandung karena Bandung terletak pada ketinggian 768 meter di atas permukaan laut, sedangkan Jakarta berada pada dataran rendah dan berbatasan langsung dengan Laut Jawa, jadi gak usah heran kalau Bandung itu sejuk dan Jakarta itu panas!

Saya hampir gak pernah pakai jaket saat berada di Jakarta saking panasnya, termasuk ketika mengendarai sepeda motor. Saya juga sering kesulitan tidur kalau ruangan yang saya tempati gak ada AC-nya. Untuk berdamai dengan panasnya Jakarta, saya pernah sengaja jogging ba’da subuh biar sepi dan gak kepanasan. Eh tetap aja panas.

Jangan bilang saya manja dan gak tahan panas ya! Justru ini kritikan untuk Pemerintah biar bisa mikir gimana caranya mengurangi efek pemanasan global dengan menanam tanaman sebanyak-banyaknya di Jakarta supaya bisa lebih sejuk sedikit gitu.

Baca juga: Mengapa Orang Bodo Amat dengan Pemanasan Global?

Skala Jarak Jakarta itu Beda!

Skala jarak yang digunakan oleh orang Jakarta dan Bandung itu beda! Gak percaya? Sini saya ceritain ya. Sewaktu saya bekerja di salah satu real estate di Kabupaten Bandung yang jarak tempuhnya sekitar empat puluh menit pakai sepeda motor, orang-orang Bandung berkomentar “Ih jauh ya! Kamu kenapa gak kost aja?”

Di Jakarta, empat puluh menit pakai sepeda motor itu masuknya dekat! Pasalnya, banyak pekerja yang rumahnya terletak di luar Jakarta seperti Bogor, Depok, Tangerang serta Bekasi yang jarak tempuhnya bisa lebih dari tiga jam perjalanan! Tidak sedikit rekan kerja saya yang berangkat sebelum adzan subuh berkumandang biar bisa sampai di kantor tepat waktu saking jauhnya jarak antara rumah dan kantornya.

Dari sisi geografis pun luas Jakarta dan Bandung itu beda banget! Luas Kota Bandung itu hanya 167,3 km², sedangkan luas Jakarta itu 661,5 km²! Luas tersebut belum ditambah kota-kota satelit di sekitarnya lho! Makanya, skala jarak antara Jakarta dan Bandung itu beda! Saya salut dengan kaum pekerja Jakarta yang perjuangannya luar biasa untuk mencari nafkah!

Baca juga: Apakah Bus Transjakarta Pink Bisa Menjadi Solusi Baik Bagi Perempuan?

Skala Waktu Jakarta itu Beda

Poin ketiga yang saya tuliskan ini masih nyambung dengan poin kedua. Di Bandung, kalau janjian dengan orang, saya hampir selalu nyantai karena sejauh apapun lokasi janjian, saya bisa sampai di lokasi tersebut kurang dari satu jam karena saya pakai sepeda motor. Estimasi waktu tambahan satu jam lebih lama kalau pakai mobil.

Di Jakarta, waktu tempuh dua jam itu kategorinya dekat! Saya pernah janjian buat meeting di daerah Kuningan dan saya baru sampai di sana setelah menempuh perjalanan selama dua jam padahal saya berkat dari Lebak Bulus yang jaraknya gak nyampe 15 kilometer saking macetnya! Saya jamin, kalau saya di Bandung, perjalanan dua jam itu sudah sampai Pangalengan!

Jakarta Serba Mahal!

Sebagai fresh graduate, saya menganggap UMP DKI Jakarta yang nominalnya di atas 4 juta Rupiah itu gede banget! Jauh lebih besar dibandingkan UMR Kota Bandung yang gak nyampe 4 juta Rupiah dan UMR Jogja yang gak nyampe 2 juta! Betapa naifnya saya.

Di Jakarta, apa-apa serba mahal. Ngekos aja mahal, apalagi hiburan! Jangankan hiburan, buat makan aja mahal! Untuk mensiasati biaya hidup yang sangat mahal tersebut, saya harus pintar-pintar mencari solusi, mulai dari membawa tumblr kemana-mana, hingga bangun lebih pagi biar bisa menyiapkan bekal ketika bepergian biar gak jajan di luar.

Udah dihemat-hemat kayak gitu masih aja susah buat nabung untuk masa depan sampai-sampai saya ngedumel dalam hati, “Bukan Jakarta yang mahal, emang kitanya aja yang miskin! Kalau mau kaya harus kerja keras! Jangan malas!”

Baca juga: Mengenal Istilah Silver Spoon: Si Kaya Dari Lahir

Susah Buat Nongkrong!

Sebagai perantau, cari teman di Jakarta itu susahnya bukan main! Memang, saya punya puluhan teman sekolah maupun teman kuliah yang mencari nafkah di Jakarta. Tapi ngajakin mereka buat ngopi itu susah banget karena mereka punya prioritas yang jauh lebih penting seperti pekerjaan mereka maupun keluarganya masing-masing.

Kalaupun ada waktu seperti tanggal merah atau long weekend, buat ketemu itu susah banget soalnya jarak tempuh dan waktu tempuhnya gak memungkinkan. Ada yang bermukim di Lebak Bulus kayak saya, ada yang ngekos di Tanah Abang, sampai ada yang ngekos di Pluit. Ngebayangin jarak tempuh dan waktu tempuhnya aja ngeri! Belum ongkosnya!

Selain itu, biaya nongkrong di Jakarta pun mahal buat masyarakat kelas menengah seperti saya dan teman-teman saya, makanya gak bisa kebanyakan nongkrong di Jakarta. Bisa-bisa gak bisa makan besok kalau kebanyakan nongkrong! Beda jauh dengan Bandung. Di Bandung mah kalau ada yang ngajakin nongkrong gas ajalah soalnya jaraknya dekat dan harganya lebih terjangkau.

Penutup

Nah, itulah beberapa culture shock sebagai orang Bandung yang pernah saya alami saat bekerja di Jakarta. Saya berdoa, semoga semua perantau yang bekerja di Jakarta bisa survive dalam menghadapi hal-hal yang saya sebutkan di atas dalam meraih impian dan cita-citanya.

Panjang umur perjuangan!

Artikel ini juga terbit di wisnu93.com

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini