Waktu Baca: 2 menit

Kita kembali lagi ke 2019. Jendral (Purn.) Gatot Nurmantyo tampaknya akan menjadi calon alternatif. Maklum, kalau lawannya Prabowo Subianto, Jokowi diprediksi akan menang. Jadi, harapannya ada ‘musuh baru’. Tapi Gatot tidak maju. Kekalahan Prabowo sesuai prediksilah yang terjadi. Tapi, ada wacana bahwa Gatot Nurmantyo Presiden 2024 itu sangat memungkinkan. Pertimbangannya, waktu masih panjang, kubu oposisi dan Islam tradisional juga sedang membutuhkan wajah baru dan ada kerinduan pada pemimpin dari kalangan militer.

Namun nyatanya, pada hari ini, Gatot Nurmantyo Presiden 2024 tidak ada dalam top of the mind. Nampaknya, sosok Gatot Nurmantyo malah makin tenggelam. Ada apa?

Baca juga : Kala Lidah Anies Baswedan Menolong Joko Widodo

Setidaknya ada beberapa alasan kuat, yang pertama, Gatot Nurmantyo sendiri tidak sat set bergerak untuk bergabung dengan partai atau membentuk koalisi. Sebenarnya, di 2019pun Gatot Nurmantyo tidak berhasil membentuk koalisi untuk mengusung namanya. Jadi, entah kenapa di 2024 inipun dia tidak terlalu bergerak cepat.

Apakah memang Gatot Nurmantyo tidak berambisi lagi berkontestasi di pemilihan Presiden 2024.

Tidak Sesederhana Itu

Masalah berikutnya, kerinduan masyarakat akan sosok militeristik ada, tapi pilihannya sekarang tambah beragam. Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) misalnya, ia punya kendaraan partai medioker, logistik kuat dan juga sosok SBY yang pandai membangun koalisi raksasa. Lihat saja kiprahnya di 2004 dan 2009.

Lalu bohong kalau kita tidak menghitung sosok lain seperti Andika Perkasa dan Moeldoko. Tokoh tokoh ini juga bisa mengisi kekosongan karena tidak adanya sosok capres militeristik.

Baca juga : Bukan Miskin, Merasa Miskinlah Sumber Kejahatan

Tentu di atas segalanya, ada mbahnya pemimpin berlatar militer, Prabowo Subianto, yang kali ini bertanding tanpa kehadiran Joko Widodo.

Selain Masalah Pimpinan Militer…

Gatot Nurmantyo bisa saja mendapatkan suara besar dari ceruk pemilih oposisi dan Islam tradisional. Tapi, kini ceruk suara itu tak terlalu besar karena kebijakan pemerintah yang tidak menguntungkan kelompok tersebut. Yang terjadi adalah, Gatot Nurmantyo harus berebut dengan pemilik terbesar ceruk itu: Anies Baswedan.

Baca juga : Sandi Uno Elektabilitas Rendah, Tapi Lebih Potensial Dari Ide Prabowo Presiden

Kalau seandainya Gatot mengalah, menjadi cawapres Anies, nampaknya Anies juga tidak mau karena sosok ini terlalu mirip. Ceruk pemilihnya sama. Anies lebih membutuhkan cawapres yang bisa menetralkan sosoknya yang terlalu dipandang sebagai Islam Konservatif dan kurang nasionalis. Untuk hal ini, memilih nama seperti Susi Pudjiastuti atau AHY lebih menguntungkan.

Sialnya lagi…

Namanya saja bagian dari oposisi, Gatot Nurmantyo sudah tidak memegang jabatan publik lagi dalam waktu yang cukup lama. Hal ini membuat ia tidak terdeteksi keberadaannya oleh masyarakat. Terakhir kali ia muncul di publik adalah di TV One dengan topik ‘gerombolan’ Effendi Simbolon. Ia tampak lebih simpatik dan bijak dalam menanggapi persoalan itu. Tapi apakah itu cukup untuk mengangkat namanya? Sepertinya tidak.

Ia juga tidak melakukan safari politik sehingga namanya makin sulit direkognisi.

Pilihan

Gatot Nurmantyo mungkin sedang menunggu. Pada waktunya ia akan bergabung ke salah satu kubu untuk ikut terlibat di 2024. Ia bisa saja menjadi bagian dari tim sukses, toh ia punya pengalaman memenangkan hati  banyak orang ketika ia membela hak konstitusi PA 212. Mungkin ia menyadari, ini belum saat yang tepat untuk maju di 2024. Persaingan terlalu ketat, momentumnya tidak ada.

Tapi, jika suatu saat, waktunya tiba. Gatot Nurmantyo siap memberikan kejutan dan maju ke pemilihan presiden. Tidak di 2024…mungkin di 2029 atau 2034…

Toh pintu masih terbuka.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini