Waktu Baca: 3 menit

Peristiwa genosida pasca tragedi 30 September 1965 adalah salah satu sejarah kelam Indonesia.

Membahas genosida, ingatan dunia tertuju pada Jerman pada era kepemimpinan Hitler. Pada saat itu sang Fuhrer membunuh jutaan warga Yahudi karena rasa iri terhadap kaum Yahudi dan memiliki keinginan untuk menjaga kemurnian ras Arya. Kini banyak sekali peninggalan-peninggalan kekejaman Hitler yang masih bisa kita saksikan.

Namun, kali ini saya nggak mau membahas soal kekejian Hitler, melainkan genosida yang juga bisa termasuk kategori mengerikan di Indonesia. Spesifiknya, saya akan membahas genosida pasca tragedi 30 September yang ternyata banyak sekali terjadi di daerah-daerah.

Begini peristiwanya.

Peristiwa Genosida di Seluruh Indonesia

Peristiwa 30 September membuat emosi warga Indonesia memuncak. Mereka, bersama pemerintah kala itu, melakukan banyak “pembersihan”. Pembersihan di sini adalah menyikat para pimpinan PKI seperti Njoto, Aidit dan M.H. Lukman termasuk juga dengan anggota-anggota PKI lainnya. Pembersihan ini dimulai pada bulan Oktober tahun 1965 di Jakarta. Selanjutnya, daerah-daerah lain juga menjadi sasaran pembersihan ini seperti Jawa Tengah, Jawa Timur, Bali sampai Sumatera.

Sayang, pembersihan ini sebenarnya mengalami banyak kendala. Salah satunya adalah terbunuhnya orang-orang yang sebenarnya bukan anggota resmi dari PKI. Saat itu, siapapun yang tertuduh sebagai PKI akan langsung mendapatkan hukuman tanpa adanya proses peradilan yang resmi untuk membuktikkan tuduhan itu. Sungguh keji.

Korban dari pembersihan ini pun juga nggak hanya berasal dari warga asli Indonesia. Orang-orang dan keturunan Tionghoa juga menjadi korban pembersihan meskipun mereka tidak terafiliasi dengan PKI.

Delapan belas bulan pasca pembantaian di Jawa banyak dampak yang muncul dari wilayah-wilayah Indonesia lainnya. Sebagai contoh di Kalimantan Barat. Setidaknya ada 45 ribu orang keturunan Tionghoa yang diusir dari tanah Kalimantan Barat oleh orang-orang suku dayak saat itu.

Dalam pembersihan ini, biasanya masyarakat dan pemerintah menggunakan metode penembakan dan pemenggalan menggunakan katana (lebih sering kita kenal dengan pedang samurai). Korban-korban meninggal ini pada akhirnya harus bersemayam di sungai-sungai dengan kondisi yang nggak wajar. Kebiasaan membuang korban di sungai ini sempat jadi masalah di Surabaya karena menimbulkan bau yang menyengat. Walaupun begitu tetap saja daerah lain kekeuh menggunakan metode yang sama hingga tahun 1969.

Baca juga: Pembantaian Tionghoa Los Angeles 1871 : Sisi Kelam Paman Sam

Peristiwa Genosida terbesar di Daerah Jawa

Di Pulau Jawa genosida pasca tragedi 30 September bermula dari perseteruan antara NU dan PKI pada tahun 1963. Perseteruan dua raksasa ini berubah menjadi pembantaian 2 tahun berselang. Namun, seperti yang kita ketahui, NU masih menjadi pihak yang seakan apatis dengan isu PKI ini hingga sekarang.

Berlainan dengan NU, Muhammadiyah dan organisasi Muslim lainnya di Pulau Jawa justru memilih melakukan pembersihand di Pulau Jawa. Pembersihan ini kini lebih terkenal dengan “Perang Suci” karena pemuda Muslim kala itu menganggap bahwa pembersihan PKI termasuk melaksanakan tugas mereka sebagai umat beragama. Saat itu, Yogyakarta menjadi saksi di mana mereka meninggalkan asrama untuk melakukan pembersihan.

Panas mulai mereda saat memasuki awal 1966. Namun, ada beberapa daerah kecil yang melakukan pembersihan. Blitar contohnya. Mereka tetap harus bergesekan dengan PKI karena anggota yang tersisa di sana melakukan perlawanan. Saat itu, di bawah Mbah Suro, dukun kepercayaan PKI, mereka melakukan perlawanan terhadap masyarakat dan pasukan TNI.

Baca juga: Pemimpin Indonesia dari Jawa Sudah Takdir Tuhan?

Peristiwa Genosida terbesar di Daerah Bali

Perbedaan kondisi sosial di Jawa dan pulai lain di Indonesia serta munculnya tuduhan bahwa orang komunis tidak segan menghancurkan budaya, agama dan karakter jadi latar belakang peristiwa genosida pasca 30 September di Bali.

Meski didominasi oleh masyarakat beragama Hindu, Bali tetap melakukan pembantaian yang disamakan dengan ritual pemberian persembahan untuk para roh. Roh yang mereka percayai saat itu adalah mereka yang marah karena adanya pelanggaran atas aturan sosial.

Selama rentang pembantaian ini setidaknya menurut perkiraan ada 80 ribu orang Bali yang menjadi korban. Angka ini ekuivalen dengan 5% penduduk Bali saat itu.

Peristiwa Genosida terbesar di Daerah Sumatera

Penghuni liar dan perusahaan-perusahaan usaha asing di perkebunan di Sumatera menjadi latar balakang pemicu pembantaian orang-orang Komunis. Kurang lebih 200 ribu penduduk Sumatera menjadi korban. Mulai masuknya suku Jawa yang bermigrasi ke Sumatera menjadi penanda berakhirnya pembantaian pada tahun 1965.

Jumlah Korban

Peristiwa 30 September sudah menjadi sejarah yang kita ketahui sejak dulu. Tapi, meskipun peristiwa ini sudah terjadi berpuluh-puluh tahun silam, jumlah pasti korban dari pembataian pasca tragedi ini masih belum diketahui.

Ada banyak versi yang memaparkan jumlah korban tragedi pasca 30 September ini. Dari perkiraan angkatan bersenjata, ada 78.500 orang yang menjadi korban yang kemudian direvisi menjadi 1 juta korban. Versi yang berbeda muncul dari orang-orang Komunis yang selamat. Mereka mengatakan bahwa ada 2 juta orang menjadi korban. Hingga kini, jumlah korban meninggal masih dalam tanda tanya besar.

Baca juga: Ketika Dunia Meninggalkan Aung San Suu Kyii Layaknya Sahabat Palsu

Ilustrasi foto oleh Sergio Souza

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini