Waktu Baca: 3 menit

Mungkin terlalu cepat membicarakan reformasi Liga 1 ketika Tragedi Kanjuruhan masih segar segarnya. Namun, harus saya akui bahwa reformasi Liga 1 tidak dapat kita abaikan dan semakin cepat dibahas semakin baik. Salah satu usul saya adalah harga tiket Liga 1 harus dinaikkan secara signifikan.

Lho kenapa?

Kita harus memandanganya dalam konteks begini. Dalam elemen pricing sebuah produk, kita sebenarnya merefleksikan target market yang kita mau. Burger seharga 10 ribu rupiah dan 50 ribu rupiah serta 100 ribu rupiah++ memiliki target market yang jelas berbeda. Nah, hal yang sama berlaku di Liga 1. Selama harga tiket tidak dinaikkan, maka refleksi target market sepakbola Indonesia juga tidak produktif dan tidak sesuai dengan visi misi persepakbolaan Indonesia. Yang datang kalau harga terlalu murah, bukan orang yang bisa membantu klub. Bikn rusuh iya. Nanti saya bahas lagi soal ini.

Jadinya tontonan bola serasa tidak aman, mencekam dan hiburan tidak sehat. Padahal Indonesia punya potensi besar, kenapa tidak kita ubah stigmatisasi yang buruk ini?

Apakah Ini Berarti Membunuh Hiburan Warga Menengah ke Bawah?

Tidak, justru ini adalah upaya penyelamatan agar Liga 1 berjalan baik, menarik dan produktif serta warga kelas menengah ke bawah juga mendapat hiburan yang wajar dan layak.

Jadi begini, Liga 1 harus berubah. Liga 1 harus menjadi liga profesional. Liga ini wajib menjadi tontonan warga terpelajar dan profesional, secara ekonomi cukup mampu dan bahkan mereka bisa membawa anak, istri dan keluarga mereka lainnya menonton pertandingan Liga 1 di stadion. Kenapa demikian? Karena warga dengan kelas ekonomi inilah yang mampu membuat klub bertahan secara finansial untuk jangka waktu panjang.

Baca juga : Betapa Dangkalnya Sebagian Pecinta Sepakbola Indonesia

Harga yang mahal juga membuat Liga 1 menjadi lebih eksklusif. Tidak semua orang bisa datang ke stadion. Agak disayangkan memang. Tapi bagi saya ini juga sekaligus motivasi. Menurut saya orang yang memiliki penghasilan cukup pasti akan berpikir dua tiga kali berbuat onar.

Sementara orang yang kesulitan finansial, cenderung tertekan dan beresiko hadir di tempat yang penuh provokasi seperti stadion.

Memang, sedihnya, stadion haruslah terisi dengan orang yang mencari hiburan dan bisa membantu klub. Jangan sampai, stadion diisi orang yang sedang stress dan ikut berpartisipasi dalam kerusuhan untuk menyalurkan kekesalannya.

Liga 1 Eksklusif Juga Demi Kebaikan Klub

Mungkin beberapa pihak marah. Mereka menganggap bahwa mereka tidak dihargai. Ya, jangan gitu, justru ini demi kebaikan klub.

Klub seharusnya memiliki iklim bisnis yang sehat sehingga tim yang dikembangkanpun bisa lebih menarik. Toh masih ada hak siar sehingga orang orang yang belum mampu membeli tiket, bisa mendukung via menonton dan berkontribusi pada pemasukkan lewat hak siar.

Baca juga : Gelonya Saya Tidak Ada Derby Mataram di Liga 1

Biarlah stadion menjadi tempat yang menyenangkan buat semua orang. Jangan kesannya masuk stadion itu mencekam dan berbahaya. Inilah titik penting reformasi Liga 1 dengan solusi harga tiket Liga 1 naik.

Tidak Ada Degradasi

Peserta Liga 1 menurut saya haruslah tim franchise. Tim ini dibentuk dengan tujuan komersil dan tak perlu ada sistem degradasi. Reformasi Liga 1 bisa meniru Major League Soccer. Dalam MLS, ada beberapa tim eksklusif yang bertanding dengan sistem pembagian wilayah.

Baca juga : Breaking News! Derby Surabaya di Kanjuruhan Berakhir Mengenaskan

Selama ini banyak suporter ngamuk karena takut timnya terdegradasi. Nah, dengan adanya sistem ala MLS ini, harusnya suporter tidak perlu takut. Selain itu, sistem ala MLS ini membantu keuangan klub. Tim tim yang wilayahnya berdekatan bisa disatukan dan dijadikan dalam mini league.

Ketimbang menggunakan sistem liga penuh yang merugikan tim dengan geografis jauh seperti Persipura, sistem ala MLS ini jauh lebih efisien. Tim yang bisa terlibatpun semakin banyak dan liga semakin meriah.

Namun ya itu tadi, tim yang tergabung dalam MLS versi reformasi Liga 1 ini haruslah tim yang benar benar profesional dan harga tiket untuk di Liga 1nya haruslah cukup tinggi. Semua ini agar kesan eksklusif, aman dan komersil bisa terjaga. Hal ini juga memperkecil peluang kerusuhan karena yang datang menonton bola, ingin nonton aja, bukan bikin sensasi.

Tim Tim Lain Gimana?

Yang boleh main di versi baru sistem reformasi Liga 1 bukanlah tim dengan prestasi mentereng, tapi tim yang bisa memenuhi standar eksklusivitas. Tim tim yang belum bisa memenuhi standar itu bisa membenahi diri di Liga 2 dan Liga 3. Hal ini juga harapannya memotivasi suporter agar lebih manner. Dengan demikian, terciptalah perlombaan di antara klub agar lebih profesional ketimbang tim lainnya. Jangan tanding serem sereman suporter dan bangga menjadi orang rusuh.

Niscaya akan terbentuk sistem kompetisi yang sehat dan bermutu.

Kalau sudah begini yang untung siapa kalau bukan suporter dan gibol Indonesia?

Gambar oleh : AP

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini