Waktu Baca: 2 menit

Sudah saatnya kita berjalan, tapi entah kenapa kita masih tertahan. Sulit untuk menggerakkan kapal yang bernama masa depan. Kita masih terkungkung dengan hal hal yang itu itu saja. Setelah kita cek, oh pantas kapalnya tidak bergerak. Rupanya jangkar belum ditarik. Jangkar masih mengerem kapal kita. Kalau kita biarkan terus menerus, ya kapal tidak akan segera berjalan. Mau cepat ya jangkar itu harus kita tarik. Begitu jangkar itu kita tarik, Kapal menjadi lepas dari dasar laut dan bisa melaju kencang. Ya itulah masa lalu, masa lalu itu seperti jangkar kapal.

Kita membutuhkan jangkar kapal. Iya dong, kalau tidak ada jangkarnya, gimana mau mengerem kapal. Kalau tidak ada jangkarnya, kapal akan tertarik arus ketika kita berada di pelabuhan. Karena ada jangkar, maka kapal tidak mlayu mlayu alias lari kemana mana.

Pelabuhan Adalah Kenyamanan

Kalau kita ibaratkan kehidupan, pelabuhan adalah simbol kenyamanan. Ada ketenangan di sana, kita merasa bahagia, tak ada pikiran bahwa ada ancaman. Di saat itulah, alangkah baiknya mengingat masa lalu.

Mengingat masa lalu dalam artian kita jangan sampai menjadi orang yang sombong. Kita harus ingat bahwa saat di atas, kita pernah di bawah dan melakukan kesalahan kesalahan konyol dalam hidup. Jadi, kalau kita di atas, tak perlu sombong. Tak perlu juga jumawa.

Baca juga : Memimpikan Mantan dan Upaya Berdamai dengan Masa Lalu

Masa lalu juga pengingat, hal yang buruk bisa saja kembali terjadi saat ini. Itu bukan hal buruk. Ya wong hidup ini memang penuh ketidakpastian kecuali mati. Kalau sedang senang, ya nikmatilah tapi kita harus eling (ingat terus) bahwa kita pernah di bawah dan kita juga bisa kembali ke bawah.

Ya itulah guna masa lalu, sebagai pengingat kita agar tidak sombong.

Kalau Mau Maju Ya Harus Diangkat

Tapi sebaliknya, kalau mau jalan ke depan, jangkar ini memang harus kita angkat. Kalau tidak kita angkat ya jadi nge’rem’. Ingatan akan kegagalan kegagalan itu buat apa kalau cuma membuat takut. Menyesal karena tidak melakukan ini itu juga terasa tidak berguna. Ya karena misalnya mau kita ubahpun juga tidak ada gunanya.

Saya ambil contoh diri saya sendiri. Mari kita jelaskan dengan ilustrasi cerita.

Saya ada penyesalan kenapa jaman SMA tidak pacaran layaknya anak muda lainnya. Di satu sisi ya saya menyesal karena kehilangan momen lucunya pacaran pas SMA. Tapi di sisi lain, melihat teman teman saya yang pacaran sampai kebablasan pas SMA membuat saya juga bersyukur. Pilihan itu ada baik dan buruknya. Ya gak usah disesali lagi kata saya.

baca juga : Ungkapan Cinta Berlebihan Untuk Tania Anggita

Saya beruntung di usia yang memasuki usia 30an awal, saya merasa masih dekat dengan anak anak muda. Teman bergaul saya ada yang umurnya belasan hingga awal dan pertengahan 20an. Saya merasa muda lagi dan saya menikmati lebih banyak mungkin dari teman teman saya yang dulu masa SMAnya sudah jor jor an. Artinya, menurut saya, kebahagiaan kita juga itu nanti akan kita dapatkan.

Malahan saya bersyukur saya menikmati hidup ketika otak saya dan kontrol emosi saya jauh lebih baik. Tahu sendiri, gila gilaan waktu SMA biasanya berujung dengan penyesalan seumur hidup.

Jangan Buang Masa Lalu

Nah, separah apapun masa lalu kita, jangan kitab uang masa lalu kita. Namanya saja masa lalu itu jangkar, kadang kita butuhkan untuk mengerem kelakuan sombong kita tapi juga kadang perlu kita tarik dari permukaan meski masih di dalam kapal ya barangnya.

Kadang masa lalu cuma perlu kita ajak salaman dan kita ajak berdamai. Ya itu termasuk masa lalu pasangan kita. Mari berjanji dengan masa lalu bahwa kita saling membutuhkan tapi harus tahu diri juga.

Hei masa lalu, yuk jalan, mau ketemu masa depan yang seru bersama kamu!

He..he..

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini