Waktu Baca: 2 menit

Umur Sumpah Pemuda, sebuah ikrar yang para pendahulu kita lakukan sudah hampir mencapai 100 tahun. Tepatnya pada 28 Oktober 1928 yang lalu orang-orang yang memperjuangkan posisi kita sekarang bersumpah buat bersatu. Mereka saat itu mengikrarkan diri mereka bersatu sebagai bangsa Indonesia, di tanah Indonesia dan berada di bawah bahasa Indonesia. Sebuah sumpah yang pada akhirnya mengakhiri perjuangan sendiri-sendiri yang terjadi di masing-masing wilayah nusantara.

Tapi, mungkin seperti simbah kita yang makin tua semakin ketinggalan zaman, susah untuk membuat diri mereka relevan, apakah Sumpah Pemuda juga demikian? Apakah sekarang ikrar para pendahulu kita sudah usang diterkam modernisasi? Jika melihat realitanya mungkin demikian.

Berbangsa Satu

Dalam Sumpah Pemuda jelas kita pernah mendapatkan kewajiban untuk menghafalkan isinya, soal paham atau tidak itu nggak masuk perhitungan. Salah satu isi sumpah yang muncul 94 tahun silam adalah berbangsa yang satu, bangsa Indonesia. Kini, bangsa Indonesia memang benar-benar bangsa yang satu, yaitu bangsa kaum menengah kebawah.

Kenyataan ini nampak dari demo-demo pemuda-pemuda baru Indonesia. Mereka mengatasnamakan rakyat Indonesia dengan berapi-api sampai membakar ban. Biasanya sih yang mereka teriakkan adalah aspirasi rakyat, seperti harga BBM yang naik akhir-akhir ini.

Pemuda-pemuda sekarang lupa bahwa bangsa Indonesia adalah bangsa Indonesia, bukan hanya berisi kaum yang memiliki ekonomi menengah kebawah saja. Padahal, kenyataannya para konglomerat pun adalah bangsa Indonesia pula. Mereka yang menyumbang PDB cukup besar sehingga kini kita masih relatif aman dari krisis ekonomi yang melanda dunia. Suka nggak suka memang kita harus berterima kasih dengan mereka.

Sementara itu, kita juga sering melupakan bahwa bangsa Indonesia nggak cuma orang Jawa yang menengah ke bawah. Semua berteriak ketika harga BBM naik tapi tutup mata ketika harga BBM di luar Jawa sudah lebih setara, pemuda sekarang lebih suka melihat ke wilayah yang seksi saja, Jawa.

Pada kesimpulannya, pemuda sekarang sudah bersumpah berbangsa satu, yaitu bangsa Indonesia yang berada di Jawa dan menengah ke bawah.

Baca juga: Tak Ada Pertalite di Desa, BBM Bersubsidi Salah Sasaran itu Salah Siapa?

Berbahasa Satu

Bahasa adalah identitas sebuah negara. Punya bahasa sendiri seakan jadi sebuah privilese yang nggak semua negara punya. Brazil, Argentina, Mexico, bahkan India sudah mulai nggak mengenal bahasa mereka sendiri. Saya pernah mendapatkan cerita dari seorang teman yang mengatakan ada anak muda India mengatakan Indonesia adalah bangsa yang beruntung, kita masih punya bahasa sendiri.

Tapi, semakin ke sini, bahasa satu kita adalah bahasa Inggris. Sekolah-sekolah di level awal seperti TK dan SD sudah mulai menggunakan bahasa Inggris, bahkan adik saya nggak terlalu fasih berbahasa Indonesia akibat tren pendidikan ini.

Alibinya sih agar bisa memahami banyak bahasa atau memaksimalkan kemampuan bahasa anak tapi justru malah jadi kelupaan sama identitas diri sendiri. Orang tua sekarang pun banyak yang bangga anaknya ngomong apple daripada apel.

Padahal untuk kecerdasan bukanlah soal bahasa Inggris atau bahasa apapun yang anak gunakan, tapi keruntutan berbicara. Semakin runtut, meskipun menggunakan bahasa Mars sekalipun adalah salah satu indikator bahwa anak itu cerdas. Nggak harus apa-apa dengan bahasa Inggris.

Tapi, toh bagaimana lagi, tren semakin memperlihatkan para pemuda berbahasa satu, yaitu bahasa Inggris.

Baca juga: Jokowi Berbahasa Indonesia di KTT G-20, Terus Kenapa?

Sumpah Pemuda 1928 Berarti Sudah Nggak Relevan

Sekarang, dengan nggak kuatnya identitas kita sekarang, jelas Sumpah Pemuda sudah nggak relevan lagi. Kita sudah berada di bawah sumpah-sumpah baru yang secara nggak sadar disepakati secara kolektif. Kini, di pandangan saya tinggal Tanah Indonesia saja yang ancamannya nggak seperti bahasa dan bangsa.

Semuanya berawal dari nggak adanya pendidikan soal identitas kita. Pol mentok kita hanya bangsa yang kuat menghafal tapi lupa mengenal, termasuk kepada identitas diri sendiri.

Maka dari itu, wajar saja kini Sumpah Pemuda edisi 1928 sudah direvisi dengan Sumpah Pemuda edisi 200-an.

Kalau mau relevan, saya yakin kalian sudah tahu caranya.

Sumber gambar: Historia

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini