Waktu Baca: 3 menit

Selain ada Honda, Yamaha, di dunia motor ada juga pabrikan yang sebenarnya cukup terkenal yaitu Suzuki. Brand yang dulu tenar gara-gara Suzuki Shogun ini sebenarnya adalah satu pabrikan motor terbaik yang saya tahu. Saya pun pernah memakai motor pabrikan Suzuki yaitu Nex generasi pertama.

Namun, kini nama Suzuki seakan semakin tergerus, terutama oleh rival senegaranya, Honda. Penjualan motornya terus-terusan turun, bahkan sempat viral banyak dealer Suzuki yang bankrut atau beralih fungsi untuk disewakan ke orang lain saking nggak lakunya. Kalau melihat apa yang terjadi dengan Suzuki ini sebenarnya kesimpulannya adalah mereka gagal karena “hati”. Bagaimana maksudnya?

Gagal Menarik Hati karena Desain yang Ancur-ancuran

Suzuki memiliki mesin yang buandel dan kenceng. Beneran deh. Jaman saya pakai Suzuki Nex 110 cc generasi pertama, saya yang jaman dulu suka ngebut di jalan pernah mengalahkan Vario 125 cc, 15 cc lebih besar. Top speed-nya juga edan, sampai 110 km/jam yang mana Supra 125 X saya sekarang nggak sekencang itu.

Namun, yang jadi masalah adalah Suzuki gagal merebut hati konsumennya karena garis desain yang begitu-begitu saja malah cenderung buruk. Jika produk-produk lain mulai menyesuaikan diri dengan konsumen yang suka desain bebek atau matic sporty, desainer Suzuki masih menggunakan bahasa desain tahun 2000-an awal.

desain suzuki smash 2020
(Desain Suzuki Smash tahun 2020)

Hal ini terlihat dari bebek terakhir yang pernah Suzuki rilis yaitu Suzuki Smash. Suzuki Smash ini sama sekali nggak mewakili pasar anak muda maupun orang dewasa. Desain dari motornya sporty enggak mewah pun juga nggak.

Jelas desain mereka kurang mencuri hati para konsumen karena desain kompetitornya lebih mewakili konsumen mereka seperti Supra 125 X yang elegan dan Yamaha Jupiter Z yang sangat sporty.

Supra 125 X Yamaha Jupiter Z1
(Desain Supra X 125 dan Yamaha Jupiter Z1 di tahun 2020)

Dari sini terlihat bagaimana Suzuki gagal memahami bagaimana pentingnya sebuah desain pada produk daripada jeroannya yang bagus. Dengan desain yang menarik, akan ada kecenderungan konsumen untuk lebih merasa puas terutama di awal pembelian. Kepuasan di sini bukanlah tergantung dengan logika, tapi dengan hati konsumen terlepas mesinnya tergolong bobrok atau nggak.

Jika saja Suzuki aware soal pentingnya sebuah desain, bukan nggak mungkin Suzuki tidak akan gagal merebut hati konsumennya.

Baca juga: Cerita Desainer Muda, Kea Rievania, dalam Menghidupi Mimpinya

Mesin Bagus Berbuah Bencana

Kesalahan selanjutnya Suzuki yang membuat mereka gagal adalah karena mereka membuat mesin yang bagus. Unik? Atau sebenarnya saya hanya bercanda? Jawabannya ini serius.

Mesin Suzuki, seperti yang sudah saya ceritakan, terkenal bandel. Bandelnya minta ampun. Ketika saya menggunakan Suzuki Nex dan ayah saya menggunakan Shogun pabrikan 2000-an awal, kedua motor ini jauh lebih bandel daripada Yamaha bahkan Honda. Sparepart mereka 2 kali lipat lebih awet daripada Honda. Jarak untuk service-nya lebih jauh dengan Honda yang rata-rata service-nya sekitar per 2.000 – 3.000 km. Begitu pula dengan sparepart-sparepart lainnya.

Namun sayangnya, mesin Suzuki yang bandelnya luar biasa justru melahirkan harga sparepart yang lebih mahal di atas kertas daripada kompetitornya. Inilah yang membuat stigma di mata konsumen bahwa jika mereka menggunakan Suzuki, uang maintenance-nya akan lebih mahal, jadi mereka merasa rugi.

Padahal kalau kita hitung secara rinci, sparepart Suzuki hanya lebih mahal sedikit daripada kompetitornya. Meskipun lebih mahal sedikit, nyatanya secara hitung-hitungan kilometer, sparepart Suzuki bisa lebih awet hampir 2 kali lipat daripada milik Yamaha maupun Honda.

Dengan stigma yang terus tumbuh di masyarakat sebenarnya membuktikkan bahwa masyarakat nggak sepenuhnya menggunakan logika mereka dalam mengkonsumsi suatu produk. Mereka hanya fokus pada perasaan mereka mengeluarkan uang yang lebih banyak di sparepart Suzuki daripada Honda meskipun jika dihitung-hitung mereka malah untuk karena sparepart Suzuki yang jauh lebih awet.

Andai saja Suzuki bisa mengakali hal ini dan menanggulangi perasaan konsumennya yang merasa boros, Suzuki bisa saja terus berjaya hingga sekarang. Tapi sayang, Suzuki terlalu polos untuk memberikan mesin yang bagus kepada masyarakat yang berimbas pada harga sparepart mereka yang menuai stigma.

Baca juga: Nyobain RON 92 di SPBU ExxonMobil, Apakah Bisa Menggantikan Pertamax?

Kesimpulan

Dari Suzuki kita bisa belajar bahwa memikirkan hati konsumen adalah bagian terpenting dari bisnis. Jika kita nggak memberikan kepuasan secara hati atau mengakali rasa mereka, mau memberikan produk dengan kualitas terbaik pun sama saja. Mengalokasikan uang untuk membuat barang yang murah dan kualitasnya biasa-biasa saja jauh lebih menguntungkan daripada kualitas bagus tapi terkesan mahal dan kurang eye catching.

Intinya, selalu ingat perasaan konsumenmu, jangan seperti Suzuki!

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini