Waktu Baca: 2 menit

Laga Arema melawan Persebaya berakhir dengan munculnya sejarah hitam untuk sepak bola Indonesia. Pada laga derby kali ini bukan hanya Arema saja yang kehilangan kemenangan, banyak keluarga yang kehilangan anggotanya akibat ricuh di laga ini. Dari yang sudah terkonfirmasi terdapat 127 orang yang meninggal dunia akibat kericuhan ini. Angka ini menempatkan tragedi Stadion Kenjuruhan menjadi tragedi paling berdarah kedua sepanjang sejarah sepak bola dunia. Bahkan, angka ini jauh melebihi jumlah korban dari tragedi Heysel yang membuat tim Inggris mendapatkan larangan untuk berlaga di kompetisi Eropa selama.

Melihat situasi seperti ini, sebenarnya tragedi Stadion Kanjuruhan adalah dampak dari benang kusut yang ada di balik dunia sepak bola Indonesia.

Sering Over Capacity

Over capacity adalah lagu usang yang terus dimainkan. Berbeda dengan negeri-negeri yang memiliki peraturan yang jelas mengenai kapasitas, laga sepak bola seakan terus-terusan melebihi kapasitas stadion tanpa perhitungan keselamatan yang sesuai. Dalam tragedi Stadion Kanjuruhan ini, kapasitas stadion sebenarnya hanya 30 ribu penonton, namun ada 42 ribu penonton yang masuk ke dalam stadion.

Hal ini sangat kontras dengan apa yang terjadi di negeri-negeri yang memiliki peraturan mengenai penonton yang lebih jelas. Sebagai contohnya ada Italia dan Stadion San Siro mereka. Kapasitas San Siro hampir bisa mampu menampung 2 kali dari penonton yang datang di Stadion Kanjuruhan. Namun, karena alasan safety kapasitas penonton di San Siro diturunkan dari angka 80 ribu ke 75 ribu penonton.

Ada baiknya jika PSSI, bukan hanya konferensi pers saja, namun juga mempertimbangkan pembuatan batasan maksimal suatu stadion. Pembuatan batasan ini jangan hanya “kira-kira” semata, tapi juga ada landasan atas keamanan yang kuat di dalamnya.

Baca juga: Suporter bola Indonesia Ndeso? Memangnya Suporter Bola Negara Lain Tidak?

Polisi Kagok

Gas air mata adalah salah satu yang menjadi sorotan di dalam tragedi ini. Polisi akhirnya memutuskan untuk menembakkan gas air mata untuk mengatasi para penonton yang turun ke lapangan. Mungkin penembakan gas air mata ini adalah respon untuk mencegah huru hara semakin menjadi tapi justru berakhir fatal.

Kekagokan polisi yang tidak bisa membedakan penggunaan gas air mata ini sangat disayangkan. Padahal seharusnya polisi memahami protap dan regulasi (semoga saja memang ada regulasi versi Indonesianya) FIFA yang melarang adanya gas air mata di stadion. Akibatnya—berbeda dengan kondisi di lingkungan bebas yang membuat massa lebih bebas menyebar untuk menghindari gas air mata—massa justru malah saling berhimpitan di pintu keluar.

Maka dari itu, pihak Kepolisian pun perlu membenahi benang kusut logika dasar anggota mereka. Jangan sampai polisi kagok lagi hingga seperti ini.

Baca juga: Kepolisian Diobrak Abrik Politisi, DPR Sekedar Cari Muka atau Serius Reformasi POLRI?

Susah Tracking Penonton

Yang menjadi hal paling sial dalam kericuhan ini adalah ketidakmampuan pihak yang berwenang untuk melakukan tracking siapa saja yang turun ke lapangan. Padahal dengan adanya tracking pihak berwenang lebih mudah melakukan penyidikan. Bukan hanya itu, pihak PSSI pun lebih bisa leluasa menjatuhi hukuman kepada yang bersangkutan. Hukuman itu bisa saja seperti denda hingga larangan untuk masuk stadion selama-lamanya.

Namun ya kembali lagi, ini adalah benang kusut yang juga harus segera pemerintah dan PSSI urai. Tanpa adanya tracking yang jelas, penonton yang bermasalah bisa berkali-kali masuk stadion dan bikin onar.

Semoga saja tragedi Stadion Kajuruhan ini adalah yang terakhir di Indonesia. Jangan sampai ada tragedi yang menjadi “juara dunia” setelah tragedi ini. Sudahlah, cukup berada di posisi runner-up dunia saja soal tragedi sepak bola paling mengerikan.

Baca juga: E-KTP Digital Dikabarkan Mau Meluncur, Efektif kah?

Sumber gambar: CNN Indonesia/Yudha Prabowo

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini