Waktu Baca: 3 menit

Beli-beli barang pakai cara kredit sekarang makin gampang. Kita nggak perlu lagi repot-repot ke Bank buat punya kartu kredit buat beli barang yang kita pengen secara nyicil. Di berbagai platform jual-beli online sudah tersedia fitur paylater. Dengan adanya paylater orang-orang bisa beli barang yang dia mau tanpa harus keluar uang langsung cash buat ambil barang yang dipingin atau dibutuhin. Biasanya sih, kalau kata orang-orang, beli barang dengan cara kredit gini haruslah barang-barang yang produktif, barang-barang yang bisa menghasilkan uang lebih besar daripada cicilan plus bunganya.

Tapi, kira-kira gimana jadinya kalau ternyata mindset ini salah? Sebenarnya kita juga boleh-boleh saja beli barang non-produktif pakai paylater nggak harus melulu beli barang yang bersifat produktif dan justru malah jauh lebih menguntungkan. Kenapa bisa begitu? Begini penjelasannya.

Perhatikan Pengorbanan yang Dilakukan

Salah satu hal yang jelas harus kita pertimbangin buat beli barang adalah soal pengorbanan. Pengorbanan di sini saya yakin kita sudah tahu maksudnya, yaitu mengorban duit kita buat kita tukar dengan barang yang kita mau. Eit, tapi kenyataannya bukan cuma itu saja lho. Pengorbanan ini juga menghitung hal-hal lain yang bisa kita lakukan dengan uang itu.

Sebagai contoh saja, saya membeli sepatu Vins dengan harga 599 ribu rupiah. Pengorbanan ini bukan cuma pengorbanan 599 ribu dari dompet saya. Saya juga mengorbankan hal-hal yang bisa saya lakukan dengan uang 600 ribu plus kembalian seribu ini, misalnya nongkrong bareng temen atau jadi tambahan uang bensin saya buat ke kampus. Bisa jadi juga uang 599 ribu rupiah yang keluar dalam satu hari ini bisa buat saya pakai ketemuan sama pacar saya dan jajanin dia lebih mahal daripada seharusnya. Nah itu adalah gambaran bahwa pengorbanan saya nggak Cuma 599 ribu semata, tapi juga hal-hal lain yang bisa saya lakuin pakai uang segitu.

Tapi, sayangnya, kita cuma dapat pelajaran finansial bahwa pengorbanan yang kita lakuin itu hanya bersifat uang saja. Nggak ada yang membahas bahwa banyak pengorbanan lain yang sebenarnya juga kita korbankan buat beli suatu barang.

Di sinilah pertimbangan ini bermain buat di keputusan membeli barang non-produktif pakai paylater. Dengan adanya paylater kita bisa meminimalisir pengorbanan di luar uang. Misalnya, dengan beli sepatu Vins pakai paylater kita tetap bisa jalan sama pacar, ketemu client sampai hal-hal lain yang seharusnya kita korbankan buat beli sepatu ini.

Saya sendiri pernah melakukannya, saya pernah beli kacamata dengan paylater buat jaga-jaga kalau kacamata yang biasanya saya pakai rusak. Dengan adanya paylater saya nggak harus ngeluarin 600 ribu dalam satu hari dan mengorbankan banyak hal yang bisa saya lakukan dengan uang tersebut seperti konsumsi bensin.

Baca juga: UMR Yogyakarta 4 Juta Justru Bisa Bikin Masalah

Mempertimbangkan Umur Barang

Nah, tapi meskipun bisa mengurangi pengorbanan non-uang yang kita lakuin, beli non-produktif pakai paylater nggak boleh asal-asalan lho. Hal yang harus kita lakuin adalah mempertimbangkan umur barang atau masa pakai barang yang kita beli secara kredit. Jangan sampai barang yang kita beli pakai paylater umur pakainya di bawah masa kredit kita. Misalnya kamu beli sepatu pakai paylater selama 12 bulan tapi masa pakainya 9 bulan aja. Uang yang kita keluarin buat bayar cicilan paylater-nya jadi sia-sia selama 3 bulan. Rugi dong jatuhnya. Kita mengorbankan uang sampai 12 bulan tapi cuma bisa kita pakai selama 9 bulan. Duh!

Maka dari itu, dalam memilih barang non-produktif buat kita beli kita benar-benar harus tahu dulu kira-kira berapa umur pakainya. Jika aja kita beli Vins dengan cicilan 75 ribu per bulan selama 12 bulan tapi umur pakainya sampai 5 tahun ya nggak salah. Hal ini pernah saya alami saat beli sepatu merk A ternyata umur pakainya 10 bulan aja, tapi perlu diperhatikan saya beli cash karena nggak kuat beli sepatu V yang saya idam-idamkan. Setelah saya hitung-hitung dari pengalaman teman-teman saya, sepatu V mereka yang harganya 550 ribu bisa bertahan sampai 6 tahun lamanya. Jelas mending saya paylater-in aja buat dapat barang yang jauh lebih awet daripada saya beli sepatu cash dengan harga 140 ribu tapi cuma bisa saya pakai selama 10 bulan.

Kalau saya hitung-hitung saya harus keluar hampir 10 juta buat beli sepatu berumur 10 bulan dalam waktu 6 tahun. Rugi besar! Mending saya paylater-in aja kan meskipun sepatu bukan barang produktif.

Baca juga: Peluang Bisnis di Bidang Ternak Untuk Investasi Masa Depan

Jangan Lupa Perhitungkan Pendapatan Buat Bayar Paylater-nya

Meskipun beli barang non-produktif secara paylater ada untungnya, jangan sampai kamu keluar uang yang terlalu besar buat nyicil barang-barang paylater-mu. Saya pribadi menghitung bahwa maksimal saya keluar uang buat bayar paylater nggak lebih dari 10-15% pendapatan saya per bulannya. Kalau berlebihan bisa jadi malah kegiatan sehari-hari saya terganggu.

Menghitung biaya per bulan buat bayar paylater nggak harus mulu-mulu 10-15% seperti saya. Setiap individu pasti punya kekuatannya masing-masing dan berbeda-beda buat bayar paylater tergantung kondisi. Saya sendiri sebelum ada tambahan kesibukan bisa menanggung sampai 20% lebih buat biaya paylater. Tapi, gara-gara munculnya kesibukan baru, angka persenan ini turun ke 10-15%.

Saya sendiri menghitung rumus buat bayar paylater harus merupakan sisa uang yang nggak saya gunakan dalam waktu satu bulan. Semakin banyak kegiatan maka persenan uang saya untuk bayar paylater akan semakin kecil. So, jangan sembarangan ya, harus kalian hitung biar nggak kerepotan sendiri.

Baca juga: Suku Bunga The Fed Naik Lagi, Bakalan Terjadi Layoff Besar-besaran Kembali?

Ilustrasi foto oleh Pixabay

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini