Waktu Baca: 2 menit

Beberapa waktu laku ada kejadian heboh di Solo, di mana HIPMI (Himpunan Pengusaha Muda Indonesia) bertengkar satu sama lain. Banyak sekali isu-isu liar yang menyebutkan alasan kenapa pengusaha-pengusaha muda jadi petinju muda di sana. Mulai dari masalah beda pendapat sampai rebutan rendang mereka sebut jadi alasannya—sungguh absurd sekali kalau realitanya alasan mereka bertengkar karena rebutan rendang. Lewat kasus ini jelas terlihat kalau HIPMI benar-benar gagal mencerminkan jiwa pengusaha.

Seorang Pengusaha Menghindari Adu Jotos

Hal paling basic yang harus kita miliki sebagai pengusaha adalah seorang pengusaha biasanya menghindari adu jotos. Pengusaha seharusnya adalah pribadi yang lebih mengandalkan akal dan kecerdikan untuk menang dalam persaingan atau perbedaan pendapat. Lewat akal dan kecerdikan serta kecerdasan yang terus mereka asah, pengusaha akan selalu bisa mengatasi kendala, persaingan dan masalah yang sedang perusahaan mereka hadapi. Sebagai contoh, Air BnB, sebuah perusahaan jaringan penginapan, karena mengandalkan kecerdasan, kecerdikan dan akal mereka, mereka bisa mengatasi masalah pemasukan yang anjlok karena COVID-19 yang lalu.

Jika saja sebuah perusahaan di bawah kendali seorang pengusaha yang doyannya adu otot bagaimana mereka bisa berkembang? Toh pemilik perusahaan BCA nggak pernah ngajak pemilik CIMB Niaga untuk gelut di Holywings.

Baca juga: Duel Azka Lawan Vicky Rawan Membuat Deddy Corbuzier Dihukum

Bekerja Sama dalam Persaingan

Para pengusaha jelas nggak akan lepas dari persaingan satu sama lain, kecuali jika mereka satu-satunya pelaku di suatu industri alias memonopoli industri. Karena munculnya persaingan inilah para pengusaha harus cerdik-cerdik agar mereka bisa bertahan salah satunya adalah saling bekerja sama.

Pernah suatu saat saya mewawancara seorang pebisnis yang menurut saya masih muda tentang persaingan. Toh, dia bukan satu-satunya pelaku di industri bisnis tersebut. Dia pun menjawab dengan jawaban yang sebenarnya cukup template yaitu saling bekerja sama. Dia akan meminjam mobil ke pengusaha yang lain jika stock yang dia miliki sedang habis terpinjam, begitu pula sebaliknya. Di bisnis kecil-kecilan lain seperti penyewaan sound system pun sama, para pelaku bisnis ini akan saling meminjam satu sama lain jika alat yang mereka butuhkan nggak tersedia. Dalam skala besar kita bisa melihat kerja sama antara Go-Jek dan Tokopedia yang melahirkan GoTo.

Jelas pada kasus HIPMI di Solo kemarin, mereka benar-benar gagal mencerminkan jiwa pengusaha yang suka bekerja sama.

Baca juga: Camperfun, Bisnis Piknik Unik Untuk Yang Cari Pengalaman Baru

Pengusaha Itu Menjaga Network

Hal terakhir yang membuktikkan bahwa HIPMI gagal mencerminkan jiwa para pengusaha adalah mereka nggak menjaga networking.

Seorang pengusaha akan paham jika networking itu adalah hal yang sangat penting. Lewat kenalan atau networking seorang pengusaha bisa memiliki biaya marketing yang minimum, punya tempat untuk diajak ngobrol sampai memiliki konsumen yang berasal dari networking mereka.

Akibat dari pemahaman mereka akan pentingnya networking, para pengusaha akan cenderung berhati-hati. Pengusaha nggak akan ngomong sompral nan ugal-ugalan, tiba-tiba emosi jiwa, suka gelut alias berantem fisik sampai hal-hal yang merusak citra mereka sehingga network mereka “kabur”.

Sayangnya, hal ini nggak terlihat di munas HIPMI. Alih-alih menjaga diri, ucapan dan koneksi, mereka malah bertengkar satu sama lain padahal buat pengusaha, 1 musuh sudah terlalu banyak.

Baca juga: Aneh Sampai Tua, Ketika Kecerdasan Intrapersonal 0 Besar

Sumber gambar: CNBC Indonesia

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini