Waktu Baca: 2 menit

Masuk sekolah atau universitas favorit adalah impian semua orang. Banyak yang berangan-angan bisa masuk sekolah unggulan atau masuk universitas negeri yang prestis. Siapa yang nggak mau bukan bisa masuk UGM, UI dan lain sebagainya. Bahkan ada yang sampai rela nggak kuliah alias gap year demi mendapatkan universitas idaman.

Tapi, tahukah kalian, masuk universitas-universitas favorit nggak selamanya menguntungkan. Selalu ada konsekuensi di sebuah pilihan-pilihan yang kita ambil, salah satunya memilih universitas yang mau kita jadikan tempat belajar. Salah satu hal yang nggak menguntungkan adalah hal-hal yang mau saya omongkan di artikel ini yang pada akhirnya membuat kesimpulan kalau jangan memilih universitas favorit.

Bisa Bikin Kita Kurang Berkembang

Bentar-bentar, masuk universitas favorit kok bisa malah bikin kita nggak berkembang? Suatu yang aneh. Logikanya masuk universitas favorit justru bikin kita berkembang bukan? Tentu saja dengan masuk universitas favorit bisa bikin kita mudah dapat pekerjaan karena pangkat kita sebagai “alumnus universitas bergengsi”.

Menilik dari berbagai penelitian, salah satunya dari Samuel Stouffer. Stouffer mengatakan bahwa keberadaan kita di sebuah tempat ternama justru bisa bikin kita minder. Sebagai analoginya, adalah ketika kita adalah seorang cerdas dan masuk di lingkungan orang-orang yang luar biasa cerdas kita justru malah minder. Kita malah merasa kecil di sebuah universitas ternama yang berakhir pada kita nggak berkembang maksimal. Logika saja, semakin kita minder semakin kita sulit buat berkembang, bukan?

Kecenderungan kita membandingkan diri sendiri dengan orang di sekitar adalah penyebabnya. Seperti contoh lainnya ketika kita adalah anak dari orang yang cukup kaya di suatu Kabupaten namun harus bergaul dengan orang-orang terkaya di suatu negara, jelas kita akan minder dan merasa diri sendiri miskin bukan? Begitu pula kondisi di universitas.

Istilah kondisi ini adalah deprivasi relatif.

Baca juga: Menjadi Kura Kura Tidak Memberikan Jaminan Belajar Teamwork

Memilih Universitas yang Biasa-biasa Saja Bukanlah Masalah

Sebenarnya kita memilih universitas yang biasa-biasa saja bukanlah masalah. Daripada kita menjadi mahasiswa kecil di lingkungan besar lebih baik jadi mahasiswa besar di lingkungan kecil.

Fungsinya untuk apa? Jelas untuk membuat kepercayaan diri tetap ada di porsi yang aman serta kita bisa mendapatkan peluang yang jauh lebih besar daripada menjadi mahasiswa kecil di kampus besar yang peluang untuk berkembang di dalam kampus lebih kecil.

Hal ini sempat saya rasakan di program studi. Saya adalah ikan besar di sebuah kampus yang kecil sehingga kesempatan saya untuk mempertahankan kepercayaan diri dan mendapatkan peluang di dalam kampus lebih besar. Begitu pula saat saya SMA dahulu.

Saya juga membandingkan teman-teman saya yang merupakan mahasiswa-mahasiswa besar di kampus kecil ternyata berkembang jauh lebih baik daripada relasi saya yang menjadi ikan kecil di kampus besar. Beberapa di antaranya pun malah lebih baik.

Kondisi ini seakan mengamini penelitian-penelitian di Amerika Serikat yang mengatakan hal yang sama. Penelitian-penelitian yang bisa kalian akses dengan mudah mbah google ini menyatakan bahwa lulusan kampus besar dan “semenjana” sama saja di tingkatan mahasiswa teratas/terpandai. Mereka semua sama-sama mendapatkan pekerjaan yang sama bagusnya. Malah, banyak penelitian yang mengatakan para mahasiswa besar di kampus kecil/semenjana malah punya karir yang lebih baik daripada lulusan kampus-kampus besar di sana.

Menarik? Ya demikianlah adanya. Layaknya sebuah anomali. Memang realita adalah anomali ketika kita bandingkan dengan ekspektasi kita.

Baca juga: Cinta Itu Pemenuhan Ekspektasi, Suka Nggak Suka Kenyataannya Seperti Ini

Penutup

Lalu, apakah berarti artikel ini memintamu jangan masuk UGM, UI, Undip dan kampus besar lainnya? Jawabannya adalah, enggak. Artikel ini sebenarnya justru berharap kamu lebih mengenal dirimu sendiri dan terlepas dari “kesepakatan bersama” bahwa kalau mau sukses atau berkembang ya masuk kampus favorit. Padahal, pada akhirnya segala keputusan masuk universitas mana bisa mempunyai sisi buruk termasuk memilih jadi mahasiswa di kampus besar dan menjadi mahasiswa kecil.

Ingat, semua kembali ke keputusanmu sendiri.

Ilustrasi foto oleh Kelly

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini