Waktu Baca: 2 menit

Hary Tanoesoedibjo tidak pernah membosankan. Ia selalu muncul dengan pernyataan pernyataan yang menarik. Kali ini ia berani menyebut bahwa partai oposisi tidak berguna secara implisit. Ya, baginya, partai oposisi mending jadi apa gitu daripada mengkritik pemerintah. Ketua umum Perindo ini enggan menjadi oposisi karena Indonesia lebih membutuhkan kerja bersama ketimbang memusuhi kabinet Jokowi. Tapi, memangnya benar partai oposisi tidak berguna?

Menurut pandangan saya, secara jujur, partai oposisi tidak berguna adalah pernyataan yang hampir benar. Kenapa? Lha wong jumlahnya hanya dua, itupun suaranya di bawah 10 persen. Sudah begitu, yang satu kalau ada kesempatan bergabung dengan kabinet Jokowi juga tampaknya tidak apa apa. Hanya satu partai saja yang ‘niat’ jadi partai oposisi, PKS. Jadi benar juga kata ketua umum Perindo. Namun tidak berguna -nya partai oposisi ini bukan berarti oposisi itu harus hilang sama sekali.

Baca juga : TGB Gabung Perindo, Demokrat Blunder

Justru sebaliknya, kebangkitan partai posisi malah dibutuhkan. Fakta bahwa partai oposisi tidak berguna ini menunjukkan ketidakdewasaan politik di Indonesia. Kalau dewasa, partai oposisi kuat di kabinet Jokowi. Wong tidak ada salahnya juga partai oposisi kuat sehingga bisa menjadi watchdog dan kekuatan penyeimbang dalam kabinet Jokowi. Benar kalau partai oposisi tidak berguna, tapi solusinya bukan berarti nggak ada oposisi. Justru partai oposisi kita butuhkan. Malah kalau perlu, partai yang sekarang di pemerintahan tapi bau baunya sudah tidak akur macam Partai Nasdem berani keluar dari kabinet Jokowi dan menjadi oposisi. Supaya apa? Ya supaya pemerintahan kita menjadi pemerintahan yang seimbang.

Fungsi Oposisi

Kalau sekarang misalnya partai oposisi tidak berguna, lalu seharusnya gunanya apa? Tentu gunanya bukan untuk asal mengkritik pemerintah. Sayangnya, di Indonesia, partai oposisi jatuhnya hanya asal mengkritik pemerintah saja karena berseberangan dan katakanlah karena sakit hati kalah di Pemilu.

Betul menang di Pemilu adalah tujuan setiap parpol. Namun salah jika misalnya kita anggap kemenangan di Pemilu adalah one and only purpose. Misalnyapun kalah, kan parpol tetap mendapatkan suara. Anggaplah parpol mendapatkan 7-8 persen suara. Meski kalah, kalau penduduk Indonesia itu 250 juta orang, parpol tersebut memiliki suara 20 juta orang! Gak jelek kita mewakili 20 juta suara rakyat Indonesia.

Baca juga : Blunder Mendukung Ganjar Pranowo, Partai Solidaritas Indonesia Adalah Refleksi Pasukan Medsos Yang Konsisten Ceroboh

Sebagai parpol yang mewakili 20 juta suara, partai politik ya harus berani melakukan kritik konstruktif dan membangun. Supaya apa? Supaya tercipta pemerintahan yang efisien dan tidak asal bapak senang. Inilah gunanya Partai Oposisi.

Jangan sampai Partai Oposisi terkenal pandai merecoki pemerintahan yang berkuasa. Misalnya saja dalam hal ini kabinet Jokowi. Justru sebaliknya, mereka harus membuat kabinet Jokowi semakin bagus tapi seperti lagunya Brissia Jodie, ‘Dengan Caraku’ begitu.

Bergabung?

Saya tidak setuju dengan pemikiran ketua umum Perindo kalau partai oposisi mending gabung kabinet Jokowi. Nggak cocok saya, kenapa? Ya ngapain. Baguslah di luar pemerintahan menjadi pengawas. Partai Oposisi lebih gagah kalau tidak meminta minta jabatan karena belum tentu mereka punya nilai tambah jika mendapat jabatan menteri. Berantem malah mungkin iya karena partai yang sudah lama jadi bagian koalisi tentu enggan mendapat perlakuan yang sama dengan mantan musuh yang baru saja bergabung. Toh kalau koalisi terlalu besar malah menimbulkan rasa tidak nyaman akibat saling caper pada empunya pemerintahan: Jokowi.

Sudah mari saling menjalankan fungsi sampai nanti di 2024.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini