Waktu Baca: 3 menit

Pernahkah mendengar perumpamaan tentang talenta di kitab suci? Mungkin buat beberapa orang pasti pernah mendengar soal ini ya. Di dalam pembahasan apapun, perumpamaan ini selalu identik dengan perumpamaan tentang bakat. Ya, nggak salah sebenarnya, jika kita artikan talenta itu apa ya talenta itu bakat. Dari sisi manapun pasti yang ada hubungannya dengan talenta adalah pembahasan tentang bakat. Nggak mungkin kan bahas talenta ternyata maksud dari talenta adalah hal-hal di luar bakat.

Nah, kira-kira bagaimana ya kalau ternyata perumpamaan talenta ini bukanlah membahas tentang bakat? Apa iya selama ini pemahaman kita tentang perumpamaan ini selama ini salah?

Apa Itu Perumpamaan Talenta?

Mungkin ada yang agak-agak lupa soal perumpamaan ini, beberapa lainnya mungkin belum pernah dengar, tapi sepertinya pembaca artikel ini mayoritas pernah mendengar perumpaan raja dan hambanya meskipun ada yang lupa. Saya akan mengingatkan sedikit.

Perumpamaan yang satu ini bercerita tentang seorang tuan dan 3 hambanya. Sang tuan memberikan kepada hambanya talenta ke masing-masing hambanya. Hambanya yang pertama dapat 5 talenta, sementara itu yang kedua dapat 2 talenta dan yang terakhir hanya dapat 1 talenta. Setelah itu, si Tuan menyuruh mereka pergi dan berpikir sendiri apa yang harus mereka lakukan terhadap talenta itu.

Singkat cerita, setelah pergi, para hamba-hamba datang kembali. Mereka melaporkan apa yang mereka dapat dari talenta tersebut. Hamba pertama mengatakan mendapatkan laba 5 talenta, yang kedua pun mendapatkan laba sesuai jumlah yang dia terima sebelumnya. Kemudian yang ketiga bagaimana? Dia lebih memilih menyimpan talentanya dan nggak berbuah laba apapun.

Sontak saja karena mendengar hambanya yang terakhir si Tuan marah-marah. Dia akhirnya menghukum hambanya yang terakhir. Dia melemparnya ke “tempat yang gelap dan penuh kertak gigi”.

Salah Kaprah Soal “Talenta”

Banyak sekali relasi atau teman saya, dan mungkin juga anda yang berpikir bahwa talenta di sini adalah talenta bakat. Eit, tapi aslinya bukan itu lho.

Talenta di sini berarti adalah uang. Yap, uang. Jadi, pada zamannya, kerajaan romawi menggunakan mata uang bernama talenta, sama seperti kita sekarang yang menggunakan rupiah. Jadi, talenta ini adalah rupiahnya zaman Romawi dahulu. Maka dari itu di lanjutan ceritanya, si Tuan meminta kepada yang terkahir untuk memberikannya kepada orang-orang yang menjalankan uang. Jika talenta di sini berarti bakat, gimana dong ngasih bakat ke orang yang menjalankan uang? Sungguh mukjizat kalau kita bisa seperti itu.

lukisan penculikan julius cesar
Lukisan penculikan Julius Cesar (Bardo Museum)

Contoh penggunaan talenta sebagai mata uang adalah seperti ketika Julius Cesar diculik oleh para bajak laut. Pada saat itu para bajak laut meminta tebusan 20 talenta atau talents agar Julius Cesar kembali hidup-hidup. Saat itu 20 talenta memiliki nilai yang sama dengan 900.000 dolar Amerika atau 14 miliar rupiah! Banyak banget ya. Auto jadi dikit-dikit bilang “wah murah banget” gak tuh.

Sebuah Perumpamaan Tentang “Investasi”

Melihat bagaimana uang dan laba bermain di sini jelas kita nggak bisa sangkut pautkan langsung ke bakat seperti kita perlu mengembangkan bakat (talenta) demi Tuhan. Perumpamaan ini sebenarnya adalah perumpamaan “investasi”.

Apakah berarti kita diajarkan buat investasi saham, obligasi atau malah main robot trading oleh kitab suci. Bukan bukan. Pada zaman itu jelas nggak ada instrumen investasi seperti ini.

Maka dari itu apakah berarti kita harus berbisnis biar uang kita semakin banyak dan nggak kena marah Tuhan dan bisa dapat 1M sebelum usia 30? Bukan juga. Jangan dikit-dikit berbau kekayaan dong.

Investasi nggak selalu tentang bagaimana kita meletakkan dan memutar uang yang kita punya. Ada banyak instrumen-instrumen lain selain investasi duit yang jarang kita singgung seperti investasi energi, waktu dan lain-lain. Dalam perumpamaan ini kita harus jeli dalam menginvestasikan energi, waktu dan lain-lain. Janganlah kita duduk diam aja dan nggak berbuat apa-apa sehingga energi dan waktu yang kita miliki nggak menghasilkan apapun.

Begitu juga dengan keputusan dalam berinvestasi energi dan waktu bahkan uang itu sendiri. Jangan sampai justru malah energi dan waktu yang kita investasikan terbuang sia-sia begitu saja. Baiknya kita harus punya hitung-hitungan dalam menginvestasikan hal-hal ini, salah satunya apakah berbuah keuntungan. Keuntungan di sini bukan cuma uang, melainkan pembelajaran, relasi dan lain-lain yang bersifat “menguntungkan” di masa depan dan tentunya nggak merugikan orang lain secara sengaja atas niat buruk.

Masing-masing dari kita bisa mengaplikasikannya sendiri. Jika seorang guru maka investasikan semuanya untuk punya relasi dan menjadi guru yang baik. Jika menjadi seorang pebisnis maka jadilah pebisnis yang jeli dalam mengatur pendapatan dan biaya, begitu pula dengan pekerjaan lainnya.

Baca juga: Kemenangan Daud Atas Goliath Bukanlah Karena Keajaiban Tuhan

Sumber gambar: Lukisan “The Parable of the Talents” karya Willem de Poorter

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini