Waktu Baca: 3 menit

Fresh graduate selalu identik dengan mereka yang baru saja lulus dan minim bahkan nggak punya pengalaman kerja. Namun, setelah bertahun-tahun kita nyaman dengan cap bahwa fresh graduate itu nggak punya pengalaman, sekarang kita mulai terusik. Pada zaman sekarang, banyak perusahaan yang menuntut para pelamarnya untuk memiliki pengalaman kerja. Kalau saja pelamar itu sudah lulus mungkin sah-sah saja, tapi sekarang banyak persyarakat di mana para fresh graduate harus punya pengalaman kerja.

Mungkin syarat ini terdengar aneh buat kita, termasuk saya, yang merupakan fresh graduate dan para calon fresh graduate. Akan muncul di pikiran kita tentang bagaimana bisa seorang fresh graduate punya pengelaman kerja selama sekian tahun. Hal yang paling mungkin buat para fresh graduate adalah punya pengalaman organisasi, bukan pengalaman kerja.

Meskipun di mata kita aneh, tapi persyaratan kaya gini pasti ada latar belakangnya. Kira-kira kenapa ya perusahaan menuntut kita punya pengalaman kerja meksipun kita merupakan fresh graduate?

Banyaknya Kesempatan Magang di Era Sekarang

Jaman sekarang mendapatkan kesempatan ikut magang itu adalah hal yang bisa dibilang cukup mudah daripada tahun-tahun sebelumnya. Banyak sekali start-up bahkan perusahaan yang sudah sustain kaya BCA membuka lowongan buat para mahasiswa yang ingin mencoba pengalaman kerja dengan status magang. Selain itu dari Kemendikbud sendiri membuka kesempatan magang yang bisa dikonversi ke sks sejumlah 20 kredit yang mana berarti kalian nggak perlu kuliah satu semester dan fokus magang saja.

Munculnya kemudahan buat mendapatkan pengalaman magang inilah yang dipandang oleh perusahaan sebagai sebuah kesempatan buat mendapatkan para fresh graduate dengan pengalaman kerja yang sudah mumpuni. Setidaknya mereka nggak perlu lagi mentutor para karyawan barunya karena sudah mendapatkan pengalaman semasa kuliah dahulu.

Baca juga: Cari Magang? Ini Tips Tips Dari Saya

Perusahaan Butuh Karyawan dengan Pengalaman yang Spesifik

Mungkin pada saat era orang tua kita kuliah dan mencari kerja, pengalaman organisasi mereka akan cukup memiliki pengaruh dalam kesempatan mendapatkan pekerjaan. Namun, sekarang, kondisinya sudah jauh berbeda dengan era enyak-babe kita dulu.

Perusahaan sekarang jauh lebih membutuhkan pengalaman yang spesifik alih-alih pengalaman umum yang biasanya mahasiswa dapatkan di organisasi.

Bentar-bentar pengalaman umum yang seperti apa ini maksudnya?

Saya sendiri merasakan bahwa ketika saya tergabung dalam sebuah organisasi mahasiswa selama 3 tahun, pengalamannya memang kurang spesifik. Saya sebagai orang yang tergabung pada keluarga Akuntansi sama sekali nggak mendapatkan pengalaman yang berurusan dengan keuangan secara mendalam. Pol-mentok ya hanya LPJ saja tanpa tahu bagaimana cara mengurus pajak, membuat akun yang benar dan lain-lain.

Sementara itu, jika saya magang, saya akan mendapatkan ilmu yang jauh lebih dalam dari sekedar LPJ. Di perusahaan magang saya bisa mendapatkan pengalaman berurusan dengan Pajak dari mereka yang berpengalamam, mencatat laporan keuangan dengan jauh lebih tepat dan lain-lain.

Maka dari itu, sekarang pengalaman organisasi dipandang kurang spesifik dan cenderung tidak mendapatkan perhatian dari perusahaan.

Baca juga: Benarkah Kita Harus Menjadi Mahasiswa Kura-kura?

Menghemat Anggaran Perusahaan

Alasan terakhir yang paling realistis yang menjadi alasan kenapa perusahaan mensyaratkan para fresh graduate yang ingin mendaftar harus memiliki pengalaman kerja adalah untuk menghemat anggaran.

Anggaran di sini bukan hanya gaji semata, tapi juga biaya-biaya kesalahan yang bisa saja kita lakukan selama masa awal kita bekerja.

Misalnya saja, kita sebagai fresh graduate akuntansi yang masuk di sebuah perusahaan tanpa adanya pengalaman. Dalam kepengurusan perpajakan dan lain sebagainya bisa bermasalah jika kita melakukan kesalahan akibat kita nggak punya pengalaman.

Kesalahan ini bisa berbuah denda hingga biaya lembur yang harus perusahaan keluarkan akibat kesalahan kita, para fresh graduate tanpa pengalaman. Selain itu, waktu yang dibutuhkan perusahaan hanya untuk laporan keuangan saja memakan waktu akibat adanya kesalahan pencatatan yang dilakukan para fresh graduate non-pengalaman.

Itupun hanya kesalahan pencatatan, belum lagi kesalahan dalam cash flow, menentukkan piutang dan lain sebagainya yang hanya bisa kita pelajari dari praktek, bukan dari perkuliahan.

Tentu saja biaya-biaya kesalahan ini bisa perusahaan minimalisir dengan mencari para fresh graduate yang sudah berpengalaman. Daripada membenahi kesalahan lebih baik menghindarinya kan?

Baca juga: Kenapa Biaya Kuliah Mahal? Ini Alasannya serta Solusi yang Bisa Dilakukan Oleh Kampus-kampus

Penutup

Persyaratan fresh graduate dengan pengalaman kerja mungkin bikin kita pusing, terutama kita yang sudah kadung lulus tanpa adanya pengalaman magang dan kerja. Tapi ya…, seperti inilah realita yang harus kita hadapi. Mau nggak mau memang kita harus menyesuaikan diri dengan persyaratan di pasar tenaga kerja sekarang.

Foto oleh Sora Shimazaki

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini