Waktu Baca: 2 menit

Agenda Megawati menjadi capres PDIP makin menguat. Ini adalah jalan tengah daripada terjadi perang saudara lain bapak lain ibu antara Ganjar Pranowo dan Puan Maharani. Banyak suara miring tentu saja dengan usulan Megawati Capres PDIP. Selain karena usia sudah lanjut, banyak yang tidak yakin Megawati punya intelektualitas setara dengan Presiden saat ini, Joko Widodo. Tapi menurut saya, menjadi presiden itu tidak perlu pintar atau setidaknya tidak perlu pintar sekali.

Yang Penting Adalah Punya Relasi

Menurut saya yang penting kalau Megawati memang mau menjadi capres PDIP dia harus punya relasi. Dia harus ‘ngerti’ siapa orang yang bisa diserahi posisi penting. Karena kita bisa melihat masalah dari Presiden Jokowi periode satu adalah seringnya reshuffle dan kocok ulang karena ia tidak mengerti relasi dan percaturan kekuatan politik di Indonesia.

Hasilnya kadang jadi wagu karena ada menteri yang mau ia reshuffle tapi ia ragu ragu atau malah ia tidak kuat ‘menjaga’ orangnya sendiri seperti dalam kasus Andrianof Chaniago. Lalu ada menteri yang terpaksa ia pertahankan karena tidak yakin sosok ini harus diperlakukan bagaimana.  Akhirnya, ada menteri yang ‘nyebrang’nya terlalu jauh. Sebut saja Bambang Brodjonegoro yang menyebrang mulai dari Menteri Keuangan lalu ke Menteri PPN hingga akhirnya menjadi Menteri Ristekdikti. Jokowi jadi kelihatan sebagai sosok yang kebingungan pada periode pertamanya.

Sementara jika benar Megawati Capres PDIP, bisa jadi ia sudah memiliki pengetahuan akan sosok sosok yang ia butuhkan untuk memperkuat kabinetnya dan tak perlu bingung seperti Jokowi. Ia akan jauh lebih baik untuk menyusun formasi kabinet ketimbang Jokowi. Apalagi ia pernah menjabat menjadi presiden sebelumnya. Jujur saja, kabinet yang pertama kali ia pimpin bukan orang orangnya dia. Maka dari itu, melihat kondisi terkini, ia bisa membuktikan diri sekaligus menunjukkan kepiawaiannya dengan memiliki dream team sesuai maunya dia.

Keterpilihan?

Namun harus kita akui bahwa keterpilihan Megawati masih rendah. Ia juga seringkali mendapat penilaian yang buruk dalam debat. Berdasar penilaian dalam berbagai debat ketika ia maju sebagai calon Presiden di 2009, nilainya adalah yang terendah ketimbang Susilo Bambang Yudhoyono dan Jusuf Kalla. Inilah yang membuat ia susah menaikkan suaranya.

Tidak hanya itu saja, popularitasnya di media sosial kurang baik dan ia kurang menarik untuk generasi Alpha dan Z, pun untuk Millenial dia juga tak menjadi pilihan pertama. Namun ia mungkin masih bisa meraih suara dari generasi yang lebih senior yaitu generasi X dan Boomers. Hanya saja semua masih masuk dalam tahap ‘What If’.

Kalau PDIP mau aman,Megawati bisa tetap menunjuk Ganjar Pranowo yang elektabilitasnya baik. Mungkin kalau memang Megawati ingin terlibat dalam pemerintahan ia tidak perlu menjadi Capres PDIP tapi ia bisa menciptakan posisi khusus misalnya ‘senior adviser’. Hal ini lah yang dulu menjadi permintaan Aburizal Bakrie ketika ia mendukung Prabowo. Ia memang tak bisa menjadi Capres atau Cawapres, namun ia ingin mendapat posisi sebagai Menteri Utama alias Perdana Menteri.

Just info, dulu pendukung Prabowo pernah dikecam karena menawarkan posisi Perdana Menteri pada Abu Rizal Bakrie. Namun nyatanya kini posisi Luhut Binsar juga mirip dengan Menteri Utama. Bagaimana ya?

Pada Akhirnya?

Apapun pilihan Megawati entah mau menjadi Capres PDIP atau King Maker dan atau membuat posisi jabatan baru, Megawati harus berhitung. Bisa jadi, Pilpres 2024 tidak hanya menentukan nasib PDIP lima tahun ke depan tapi juga sampai sepuluh tahun ke depan.

Baca juga :

Menilai PDIP Akan Hancur, Orang Ini Bersyukur Ayahnya Meninggal

 

Hasnaeni Wanita Emas, Rival Ahok Yang Sekarang Tersangka Korupsi

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini