Waktu Baca: 2 menit

Ketika Thailand gempar karena tindakan guru yang memotong rambut murid secara sembarangan, di Yogyakarta ada anak sekolah yang terbiasa berambut gondrong. Mana lagi kalau bukan SMA Kolese De Britto atau yang biasa disingkat JB. JB sendiri adalah singkatan dari Johanes De Britto, santo pelindung SMA Kolese De Britto. SMA ini terkenal karena murid muridnya yang berambut gondrong. Bagi orang lain, anak JB gondrong itu keren. Namun, tidak ada yang pernah kritis menanyakan kenapa anak JB gondrong. Wajar karena orang Indonesia senang dengan paket luar tapi tidak melihat ke kedalaman. Jadi, kenapa anak JB gondrong?

Kalau alasannya sangat filosofis sih enggak. Sebab dalam tulisannya, Romo Oei Tik Djoen SJ yang merumuskan pendidikan bebas juga gak muluk muluk dalam berbicara. Baginya, rambut gondrong itu tidak perlu menjadi urusan yang penting penting amat. Yang terpenting kan anak bersekolah. Itulah yang menjadi prinsipnya.

Para Pengikut

Memang kemudian banyak sekolah lain yang ‘ikut-ikutan’ membolehkan anak berambut gondrong tapi dengan syarat, misalnya saja harus pintar di kelas. Ini justru bentuk pendidikan yang berbahaya menurut hemat saya. Kenapa? Karena anak akan berpikir kalau saya lebih pintar maka saya berhak berbuat semena mena. Ini jelas pemikiran yang gak bener. Anak pintar itu gak melulu karena rajin belajar, tapi bisa jadi ia memang pintar dari sononya. Kalau nanti kita membiasakan anak anak itu berpikir orang pintar bisa bebas, itu sama saja kita melahirkan generasi pintar yang minteri, bukan yang idealis dan mau membangun peradaban.

Kalau hari ini anak JB gondrong dan masih gondrong untuk beberapa waktu ke depan, saya memaknainya sebagai proses kehidupan saja. Mungkin maknanya sudah beda. Ketika melewati pergolakan Orde Baru, mungkin ada yang merasa bahwa rambut gondrong ini adalah bentuk perlawanan dari militerisasi yang marak diterapkan oleh Presiden Soeharto. Ya boleh..boleh saja..penerapannya begitu.

Kalau di masa kini, mungkin anggapannya ini adalah bukti bahwa anak JB itu bebas untuk..bukan bebas dari..Ya sah sah saja. Tapi di antara semua perdebatan itu. Sebenarnya alasannya ya simpel saja pada awalnya. Ya supaya anak mau bersekolah! Tidak cari cari alasan gak nduwe duit…gak bisa beli seragam…dan seterusnya.

Mengutip pamong De Britto yang telah mangkat, Romo Gerardus Koelman SJ, yang penting itu ya datang dulu ke sekolah..belajar..tetek bengek seperti rambut gondrong dan lain lain itu sebenarnya ya hanya perdebatan remeh temeh. Tidak perlu sampai begimana.

Baca juga :

Potong Rambut Siswa, Guru Thailand Disidang Kementerian Pendidikan Thailand

Jangan Mengganggu Angsa, Ini Akibatnya!

Kisah Tuna Wisma Insyaf Yang Berubah Pikiran

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini