Waktu Baca: 3 menit

“Indonesia bangsa yang cerdas, tapi ‘melacurkan diri’,” aku masih ingat betul ucapan dari kerabat saya yang mengatakan hal ini kepadaku. Bahasa yang dia gunakan memang sangat keras dan cukup menohok. Buat beberapa orang mungkin juga termasuk kalian, merasa tersinggung akibat kata-katanya.

Apakah aku tersinggung sebagai bagian bangsa Indonesia? Jawabannya ya enggak. Setelah aku riset-riset, aku menemukan bahwa ucapan kerabatku ini benar. Bangsa Indonesia memang bangsa yang cerdas, tapi lebih memilih melacurkan diri.

Semoga ga dianggap slut shaming yaa…, hehehe…

“Orang Indonesia” Pernah Membodohi Salah Satu Kekaisaran Paling Ditakuti

Kecerdasan “orang Indonesia” bisa terlihat dari sejarah yang luar biasa. Salah satunya adalah ketika “orang Indonesia” membodohi kekaisaran Mongolia yang ditakuti di dunia pada tahun 1200 an akhir.

“Orang Indonesia” yang membodohi Amerikanya abad 13 tersebut adalah Raden Wijaya. Mungkin beberapa orang yang berasal dari program studi Sejarah sangat paham betul siapa dia. Namun, buat orang-orang yang lupa sejarah, bakalan aku ingetin bahwa Raden Wijaya ini adalah pendiri salah satu kerajaan terbesar di sejarah Indonesia, Majapahit.

Raden Wijaya bisa memanfaatkan para pasukan Mongol untuk membantunya menggulingkan Jakatwang dari takhtanya. Selepas penggulingan Jayakatwang secara mengejutkan, Raden Wijaya dengan pasukannya yang nggak terlalu banyak bisa memukul Mongol keluar dari Nusantara, padahal saat itu, Kekaisaran Mongol masih dipimpin oleh Kubilai Khan.

Baca juga: Pemimpin Indonesia dari Jawa Sudah Takdir Tuhan?

Kekaguman Arsitek terhadap Cara Leluhur Indonesia Membangun Candi

Candi-candi di Indonesia sampai sekarang masih membuat para arsitek terheran-heran. Mereka kagum dengan bagaimana cara orang Nusantara di zaman itu bisa bikin candi dengan metode “sederhana”.

Pembangunan Candi di Indonesia, di mata para ahli arsitektur dilakukan dengan cara yang sangat cerdas dan modern pada masanya. Para leluhur menyusun candi tanpa semen. Mereka “hanya” meletakkan batu agar saling mengunci.

Hasilnya? Hingga sekarang kita masih bisa melihat banyak candi di Indonesia yang bisa bertahan. Meskipun sempat mengalami renovasi, candi-candi ini bisa bertahan selama ratusan tahun semenjak leluhur kita membangun candi tersebut.

Jelas dalam pembangunan Candi dengan cara yang “sederhana” itu harus ada perhitungan matematika yang luar biasa rumit. Para leluhur harus paham perhitungan ukuran, sudut dan lain-lain agar bisa membuat bangunan candi dengan cara sederhana namun kuat dan megah. Padahal saat itu, di Indonesia atau Nusantara, belum ada universitas sama sekali.

Baca juga: Sejak Ada Perppu Cipta Kerja, Kuliah Tidak Berguna (?)

Indonesia Adalah Bangsa yang Cerdas tapi Melacurkan Diri

Berkaca dari besarnya leluhur bangsa di zaman dulu, melihat kondisi bangsa sekarang pastinya aneh ya? Kalau bingung kenapa ya kutip saja ucapan kerabatku yang ngomong kalau bangsa kita adalah bangsa “pelacur”.

Pada zaman sekarang, kita bisa melihat banyak orang melacurkan diri sendiri demi kekuasaan politik sementara yang ending-ending-nya cuma pengen kaya raya sendiri. Demi uang dan kekuasaan banyak orang yang rela jadi bodoh bahkan menendang orang cerdas demi ambisinya untuk melacurkan diri demi uang dan kekuasaan.

Kita bahas polemik LPDP sejenak untuk menggambarkan bagaimana bangsa ini melupakan jati diri untuk menjadi “pelacur”.

Jika kita menuntut para awardee LPDP untuk berkarya di Indonesia, jelas itu adalah hal yang sangat mustahil. Kenapa? Karena bangsa ini menjual kecerdasan rakyatnya demi kekuasaan.

Sebagai contoh, aku bakalan mengutip ucapan dari mendiang B.J. Habibie. Beliau pernah mengatakan alasan kenapa ilmuwan Indonesia jarang yang mau bekerja di dalam negeri.

Saat itu beliau menjawab alasannya dengan memberikan contoh produksi garam. Habibie menyorot banyak sekali ilmuwan di Indonesia yang bisa memproduksi garam berkualitas tinggi untuk kebutuhan dalam negeri. Tapi, mereka memilih untuk tetap bekerja di luar negeri karena nggak punya tempat kerja di Indonesia. Hingga sekarang Indonesia masih lebih suka mengimpor garam.

Tebak apa plot twist-nya? Hingga sekarang kasus korupsi impor garam masih terus terjadi. Kita melacur dengan “menjual aset bangsa sendiri” demi kekuasaan dan kekayaan pribadi.

Masih banyak contoh lain yang menggambarkan betapa cerdasnya bangsa ini namun karena mental “pelacur” kita, para ilmuwan jadi kabur ke luar negeri.

Awardee LPDP pun demikian. Mereka sebenarnya bisa saja berada di Indonesia. Namun seperti kata Habibie, mereka justru nggak bisa berkarya di sini.

Betul kata kerabat saya, bangsa ini melacurkan kecerdasannya demi politik dan kekuasaan.

Baca juga: Nenek Moyang Indonesia Berasal dari Taiwan?

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini